Mia duduk bersandar di kursi rotan berbentuk cangkang kerang di teras rumahnya, dia mengenakan daster batik Solo yang adem, sementara itu, tangan kanannya mengayunkan kipasnya ke wajah, berusaha menghalau udara panas.
Secara administratif, Parung Panjang berada di wilayah Kabupaten Bogor, tapi secara iklim dan cuaca, rasanya lebih kering dan panas.
Sekarang sudah pukul setengah empat sore, tapi suhu udara belum turun juga. Langit masih cerah dan biru tanpa awan. Berhari-hari kadang berlalu tanpa hujan, debu halus dengan mudah naik dan terangkat, lalu terbang terbawa angin, mengotori teras dan membuat anak-anak batuk pilek.
Mia mengipas wajahnya sembari menatap jajaran pohon bugenvil yang pendek sebetis, tapi rimbun oleh bunga. Ketika Mia pertama kalinya menempati rumah ini, salah satu yang dia lakukan adalah mendatangi tukang penjual tanaman tak jauh dari sini, memintanya mengisi sebidang kecil tanah di teras dengan tanaman bunga.
Penjual tanaman itu menyarankan Mia menanam bugenvil. Cocok dengan daerah panas, malah, makin panas, bunganya akan makin semarak... sementara kalau musim hujan, akan lebih banyak tumbuh daun.
"Neng Mia...!"
Mia yang pikirannya sedang kosong, seketika kembali fokus mendengar suara itu. Yang memanggilnya adalah ibu tetangga depannya, yang ramah dan suka bercanda.
Mia berdiri pelan dari kursi dan berjalan ke ujung teras. Rumah mereka sempit berdempet, jalannya juga tak terlalu lebar. Hanya begini saja sudah cukup bagi Mia untuk bisa melihat tetangganya itu, kini sedang menstarter motor Scoopynya di carport. Helm sudah menutupi kepalanya dan sarung tangan rajut menutupi tangannya.
"Jemput Bu?" tanya Mia sambil tersenyum, sambil tetap mengipas.
"Iya, nihh.." jawab tetangganya dengan ceria, lalu beliau tertawa melihat Mia. "Aduuhh, bumil kipasan mulu nih, ntar cepet mateng tuuuh."
Mia ikut tergelak. "Sate ayam kali, Bu, mateng..."
Tetangganya tertawa, dan dengan lancar, dia menjalankan motornya. "Ayo, Nengg, duluan." Dalam satu tarikan gas, dia sudah keluar dari carport dan menghilang dari pandangan Mia. Mia bahkan belum sempat membalasnya.
Mia kembali duduk di teras, dan kembali menatap barisan pohon bugenvil. Sambil lalu, Mia juga mengecek arloji yang melingkar di jarinya. Pukul 15.20.
Sore ini, Harris akan datang ke sini.
Kemarin Harris mengirimkan pesan kalau mereka harus bertemu hari ini. Menurut Harris, ada hal penting yang perlu mereka bicarakan. Pukul 4 sore ya, kata Harris, bahkan tanpa bertanya apakah Mia ada di rumah atau tidak. Apakah Mia punya acara lain atau tidak.
Mia tak langsung menjawab pertanyaan itu. Pesan dari Harris datang terlalu jarang, jadi Mia menggulirkan jarinya ke atas, membaca percakapan mereka selama ini, sejak mereka pisah rumah. Mia menyadari, ini pertama kalinya Harris mengajaknya bertemu. Pada percakapan mereka yang lain, pembicaraan pendek mereka hanya seputar gugatan perceraian, soal kuliah Killa, soal kontrakan rumah keluarga Mia yang sebentar lagi selesai, dan soal kesehatan Mia.
Dan di salah satu pesan paling awal sejak perpisahan, ibu jari Mia berhenti menggulirkan layar.
Mas, dirawat di rumah sakit mana? Aku mau nengok. Aku baru dengar, Mas... Aku nggak tahu. Luka kamu separah apa? Dokter bilang apa? Mau dibawain apa?
Mia sudah hapal jawaban Harris, dia sudah membacanya ratusan kali, lewat matanya, terlintas di benaknya, berulang-ulang jawaban Harris menggema di kepalanya.
Tapi tak ayal tatapan Mia turun, mencari lagi, membaca ulang jawaban Harris, merasakan rasa sakit hati yang baru lagi.
Tolong jangan cari temui aku dulu.... Aku tidak apa-apa. Tidak separah yang ada di berita.
KAMU SEDANG MEMBACA
Luka Segar
RomanceSelepas kematian ayahnya yang mendadak, Artemia Mudita memilih menerima pinangan Harris Teguh Prawira. Menjadi istri Harris membuat Mia bisa memastikan Killa, adiknya, tetap berkuliah karena harta keluarga sudah dia rencanakan untuk membayar hu...
