Syakilla berakhir membeli kwetiaw goreng, dengan ekstra rawit iris dan ekstra acar.
Tadinya dia benar-benar tidak punya nafsu makan. Yang Killa inginkan hanyalah berada di sisi kakaknya.
Killa baru menyadari langkahnya lebih ringan untuk pergi mencari makan saat tadi ada Harris, dan lelaki itu sepertinya bisa dipercaya untuk menjaga kakaknya sebentar.
Setidaknya, kakaknya selama ini sudah percaya pada Harris, dan Harris sudah mendampingi Mia dalam menjual aset-aset ayahnya. Jadi secara alamiah, Killa juga menganggap Harris bisa dipercaya.
Langkah Killa melambat saat dia melewati sebuah mobil SUV hitam besar mengkilap yang terparkir di halaman ruko yang tutup.
Kalau dia tak salah ingat, ini mobil milik Harris. Mendiang ayahnya pernah bilang mau beli mobil yang semacam ini.
"Nanti boleh kamu bawa kuliah," kata Fajri kala itu dengan gelaknya yang khas. Fajri tahu Killa suka dengan motor sport dan mobil besar, tapi selama ini untuk kepraktisan mengemudi di dalam kota, Killa selalu menyetir city car yang mungil.
Rencana Fajri itu tak pernah kesampaian. Malah, setelah kematian Fajri, semua mobil milik keluarga mereka, termasuk mobil Killa dan mobil Mia juga ikut terjual.
Mia kemudian membeli mobil lagi yang second dan murah, yang penting bisa dipakai untuk transportasi dalam bekerja.
Beberapa minggu lalu Mia menawarkan Killa barangkali dia ingin beli mobil lagi, tapi Killa menolak. Killa malu menerima kebaikan kakaknya lebih banyak lagi...
Selama ini, nyaris tidak ada yang berubah setelah ayahnya tiada. Uang bulanannya tetap sama, rumah kos yang dia tinggali masih sama, bayaran kuliahnya selalu ditransfer tepat waktu... tapi Killa merasa ada harga yang perlu dibayar Mia untuk memastikan agar standar hidup Killa tidak berubah.
Dan setelah beberapa hari ini ini tinggal bersama Mia, Killa menyadari Mia membayarnya dengan kebahagiaan dan kesehatannya sendiri.
Killa berjalan memasuki gang tempat rumah kakaknya, aneka pikiran masih berkecamuk.
Kini Mia sudah pulang dari rumah sakit, Killa punya firasat hal pertama yang akan dilakukan kakaknya itu adalah mengirimnya kembali ke Bandung untuk kuliah.
Tapi Killa merasa tidak ada semangat lagi untuk meneruskan kuliah. Masih terekam jelas di ingatannya beberapa bulan lalu, saat dia menerima telepon yang mengabarkan ayahnya sudah tiada.
Lalu beberapa hari yang lalu, ketika tetangga kakaknya menelepon dan mengabari kalau kakaknya dirawat di rumah sakit.
Seperti ada kenyataan yang patah, seperti hidup di dua realita. Di Bandung, hidup Killa terasa enteng, mudah dan menyenangkan, sementara di sini, kakaknya, keluarganya, darah dagingnya, harus bekerja ekstra keras demi memenuhi kebutuhannya.
Killa menghela napas dan mendorong pintu samping rumah Mia, memasuki rumah mungil itu.
Mia tidak akan dengan mudah menerima keputusan Killa untuk berhenti kuliah, jadi mungkin Killa harus mengabarkannya dengan bertahap.
Misalnya, Killa akan bilang dia ingin berada di sisi Mia dulu sampai kakaknya itu sembuh...
Killa berjalan terus menuju kamar belakang, tempat Mia beristirahat. Saking larutnya dengan pikirannya sendiri, Killa sampai tidak menyadari kalau pintu kamar Mia hampir tertutup, dengan sedikit celah saja yang terbuka, padahal ketika Killa pergi tadi, pintu itu terbuka lebar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Luka Segar
RomanceSelepas kematian ayahnya yang mendadak, Artemia Mudita memilih menerima pinangan Harris Teguh Prawira. Menjadi istri Harris membuat Mia bisa memastikan Killa, adiknya, tetap berkuliah karena harta keluarga sudah dia rencanakan untuk membayar hu...
