Di hari kematian ayahnya, Mia ingat, langit juga secerah ini. Dia sedang bersiap naik speedboat dari marina, dan saat menunggu giliran naik kapal, dia menengadahkan wajahnya ke atas.
Langit terlalu biru. Tidak mungkin ada hal buruk yang terjadi hari ini.
***
Pagi ini, sebelum memulai jalan pagi, Mia berdiri sedikit lebih lama di pagar depan rumahnya, menengadah dan menatap langit.
Kemarin malam hujan sebentar, jadi udara terasa sedikit lebih bersih dan lebih nyaman dari biasanya. Dia memulai jalan paginya, dan menyapa beberapa tetangga yang berpapasan di jalan.
Kemarin Harris mengatakan kalau hari ini tidak akan datang, karena hari ini dia harus pergi ke Purwakarta untuk urusan kantornya.
Sejak balik dari Bandung pekan lalu, kedatangan Harris sudah jadi rutinitas harian. Datang ke rumah Mia sepulang kerja, dan baru kembali ke hotelnya sendiri setelah makan malam. Yan, yang mulanya masih sering menjaga di dekat rumah Mia, diminta Harris untuk meninggalkan mereka dan baru menjemput Harris saat waktunya pulang.
Untuk urusan tempat tinggal, mereka memang masih belum menemukan solusinya. Harris masih tinggal di hotel, jadi Mia tak mau ikut tinggal bersama Harris. Sementara itu, Mia tak pernah menawarkan Harris agar tinggal di sini. Dengan pengamanan di lingkungan Mia yang seadanya, Mia merasa akan lebih aman kalau Harris tinggal di hotel saja. Kalau pun Lukas masih mengincar Harris, setidaknya jadi tidak akan terlalu mudah.
Per pekan depan, Harris akan pindah ke apartemen yang lokasinya tak sampai dua kilometer dari rumah keluarga Mia. Mia juga akan ikut tinggal di sana. Harris sudah mencarikan apartemen yang lengkap dengan jogging track dan kolam renang, dekat juga dengan sanggar yoga kehamilan. Rencananya, Mia juga akan tinggal bersama Harris di apartemen.
Kalau sudah tinggal bersama lagi, Mia berencana membujuk Harris untuk melepaskan Yan, meskipun kontraknya masih beberapa bulan lagi. Mungkin mencari supir yang punya kemampuan bela diri lebih cocok untuk kebutuhan Harris.
Tapi Mia tidak tahu apakah dia bujukannya bisa berhasil. Karena tidak seperti Mia yang makin hari makin rileks, semakin hari Harris malah semakin sulit untuk tenang.
Harris paranoid kalau ada yang mengikutinya. Dari Yan, Mia tahu, Harris selalu meminta Yan menggunakan mobil berganti-ganti, atau menggunakan jalan yang berbeda-beda tiap datang mendatangi Mia.
Beberapa hari yang lalu Harris memohon pada Mia agar mau ditemani pengawal perempuan. Harris sudah bersiap mengontrak satu lagi dari agensi keamanan tempat Yan bekerja, minimal sebelum mereka kembali tinggal bersama.
Mendengar permohonan Harris itu, Mia merasakan dorongan untuk marah, dia rasanya ingin berhenti bicara saat itu juga dan sudah membuat rencana mogok menemui Harris di hari-hari berikutnya.
Tapi Mia menyadari, kalau Harris saja sudah berusaha keras untuk jujur akan yang dia rasakan dan terbuka dengannya, maka setidaknya Mia juga seharusnya mencoba melakukan hal yang sama.
Mia akhirnya menolak permintaan Harris, dan menyampaikan alasannya; Mia tidak merasa itu diperlukan.
Yan mungkin masih dibutuhkan Harris sekarang-sekarang ini, tapi seperti roda latihan di sepeda, suatu saat mereka juga akan berhenti menggunakan jasa Yan. Mia masih memahami Harris mungkin trauma dengan kejadian yang terjadi padanya, tapi Mia merasa menyewa satu pengawal lagi terasa seperti kemunduran.
"Selama tidak ada tanda-tanda pergerakan dari Lukas, kita hanya bisa mengambil kesimpulan masalah ini sudah selesai," kata Mia.
"Mungkin kalau aku tidak pernah disergap di tengah jalan, tak pernah dianaya di rumahku sendiri, aku juga akan punya pikiran yang sama denganmu, Mia..." sergah Harris. "Sebengis-bengisnya manusia yang pernah kutemui adalah Lukas, dan aku berharap seumur hidupmu, kamu juga tidak pernah bertemu dia. Kamu perempuan, atau kamu sedang hamil, itu semua tidak akan jadi halangan bagi Lukas untuk berbuat jahat padamu..."
KAMU SEDANG MEMBACA
Luka Segar
RomanceSelepas kematian ayahnya yang mendadak, Artemia Mudita memilih menerima pinangan Harris Teguh Prawira. Menjadi istri Harris membuat Mia bisa memastikan Killa, adiknya, tetap berkuliah karena harta keluarga sudah dia rencanakan untuk membayar hu...
