Di sepuluh bulan pertama pernikahan mereka, Harris merasa takjub. Dia tak tahu dunia bisa begitu indah saat seseorang memulai hidup berumah tangga.
Semua kebahagiaan yang bisa dia reguk, semua manis yang bisa dia dicicipi... dia rasakan sepenuhnya. Harris tidak tahu dia bisa mencintai seseorang sampai sedemikian besar.
Tentu, dia mencintai ibunya. Menyayangi karyawannya. Tapi yang dia rasakan pada Mia berbeda.
Hasrat yang dia rasakan pada Mia sebelum menikah ternyata tak ada apa-apanya dibandingkan setelah Mia jadi istrinya. Semuanya terasa makin berkobar, makin menggelegak... seperti ada api di aliran darahnya.
Harris tahu dia tidak terlalu pintar untuk menyampaikan isi hatinya. Tapi Harris selalu melakukan segalanya, berusaha membuat Mia tahu.
Membisikan kata-kata sayang sederhana rasanya tidak cukup, Harris jadi mengerti kenapa ada orang-orang yang membuat puisi dan menggubah lagi dengan lirik dan nada yang mendayu.... tapi karena hanya itu yang Harris bisa lakukan, maka itulah yang dia lakukan.
Dalam setiap tindakan dan perbuatan, Harris selalu berusaha mendahulukan dan menomorsatukan Mia, berharap dengan begitu Mia bisa merasakan kedalaman kasih sayangnya.
Tapi rasanya.... semua yang Harris lakukan, terasa tidak ada apa-apanya dengan yang sudah Mia lakukan untuknya.
Dukungan Mia pada perjalanan bisnis Harris... dan kebaikan serta pengabdian Mia pada Sari, ibunya, yang didiagnosa mengalami kanker darah, hanya 10 bulan setelah Mia menikah dengan Harris.
***
Pukul sembilan malam, tersisa empat orang yang masih mengobrol di ruang tamu rumah Harris. Kalau sepanjang sore sampai acara makan malam tadi semua obrolan terasa encer dan penuh basa-basi, maka kini topik pembicaraan lebih terkonsentrasi.
"Kalau emang mau, kita lolosin dulu ini barang...." kata Faizal.
"Iya, masalahnya dari semua usaha cuma parkir doang yang paling banyak premannya, oknum Pemda, oknum aparat, belum punglinya. Hidden cost-nya terlalu banyak, hitung-hitungannya jadi susah. Salah-salah boncos kudu ngasih persenan sana-sini," tandas Melki.
Ilona, yang punya beberapa gedung ruko untuk disewakan dan jelas sudah berpengalaman dengan urusan tersebut, ikut berpendapat, "Nah itu fungsinya melihara satu biar kita nggak kebanyakan setor."
Ilona tidak menjelaskan apa yang dia maksud dengan 'memelihara satu', apakah satu oknum, satu preman atau satu aparat.... tapi baik Melki dan Faizal sama-sama mengangguk setuju.
Harris tidak mengatakan apa-apa. Dia mengusap bibirnya yang kering menggunakan telunjuk, sebelum menyesap air putih dari gelasnya.
"Kalau menurutmu gimana?" tanya Ilona, menatap Harris.
Harris menaruh kembali gelasnya ke meja. "Nggak gimana-gimana. Nggak ada minat ke arah situ," jawab Harris.
Ilona berdecak. "Padahal ini menjanjikan banget... Easy money, lah."
Harris menatap Ilona. "Nggak gampang-gampang banget kalau masih kudu punya peliharaan biar bisnis tetap lancar."
Tidak ada yang bisa membantah ucapan Harris itu, jadi Ilona hanya mengedikkan bahu, Melki pura-pura minum dan Faizal mendadak meregangkan tubuhnya.
Harris agak merasa seperti kambing yang digiring untuk minum di sungai.
Melki, Ilona dan Faizal memang sudah membahas soal rencana membuka usaha jasa layanan parkir resmi di hadapan Harris beberapa kali. Tapi baru kali ini Harris benar-benar ditanya soal pendapatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Luka Segar
RomansaSelepas kematian ayahnya yang mendadak, Artemia Mudita memilih menerima pinangan Harris Teguh Prawira. Menjadi istri Harris membuat Mia bisa memastikan Killa, adiknya, tetap berkuliah karena harta keluarga sudah dia rencanakan untuk membayar hu...
