Harris mendongak menatap Mia, tapi lagi-lagi, matanya turun ke tubuh istrinya, dan jantung Harris serasa disentak.
Saat berdiri seperti ini, kehamilan Mia terlihat lebih jelas.
Harris tidak tahu berapa usia kandungan Mia saat istrinya itu pergi dari rumah. Dia juga tak berani bertanya soal kepastian usia kehamilannya kini. Mungkin 4-5 bulan. Bisa lebih bisa kurang.
Dengan siapa Mia pergi memeriksakan kandungannya tiap bulan. Dulu saat mengantar Mia ke dokter kandungan, antriannya selalu panjang, bisa sampai jam 10 malam. Mia selalu kecapekan, membawa bantal kecil dan minta dibelikan air mineral dan roti tawar dari minimarket di RS. Apakah yang kini mengantar Mia juga melakukan hal yang sama? Bantal kecilnya masih ada di rumah mereka yang lama, apakah Mia sudah membeli yang baru?
Jauh di mata, jauh di hati.
Mudah untuk berpura-pura tidak peduli pada Mia saat mereka kehilangan kontak, kini bertemu lagi, perasaan rindu dan perasaan bersalah menghantam dan menggulung Harris. Dia tahu Mia hamil, tapi fakta itu seperti tak bisa berakar di kepalanya. Yang berubah adalah tubuh Mia. Yang lemah dan sakit berbulan-bulan adalah Mia.
Dua bulan ini, seperti apa hidupmu, Mia?
Harris selalu merasa lebih baik bercerai dengan Mia daripada mempertaruhkan keselamatan Mia dan calon buah hati mereka. Tapi benarkah itu saja satu-satunya jalan? Tidak adakah yang bisa dia lakukan lagi?
Karena kini, setelah perceraiannya gagal dan dia bertemu Mia lagi, Harris tidak bisa membayangkan kalau harus berpisah lagi dengan Mia.... meninggalkan Mia di sini, dan kembali ke kamar hotelnya yang dingin dan sepi.
***
Mia bisa merasakan suasana hatinya memburuk, matanya panas dan jantungnya berdebar terlalu kencang.
Sementara itu, Harris hanya diam di tempatnya duduk. Dia menatap Mia tanpa mengatakan apa-apa.
Mia sudah cukup lama menjadi istri Harris untuk tahu apa yang akan terjadi selanjutnya: Harris akan melakukan segala cara untuk menghindari perdebatan selanjutnya, mengiyakan segala perkataan Mia, mengabulkan semua keinginan Mia, atau menghujani Mia dengan hadiah.
Harris berdiri, dan maju satu langkah. Dia lalu mengulurkan tangannya dan meletakkannya di bahu Mia.
"Mia... masuklah ke kamar sekarang, nanti aku menyusul," kata Harris, sembari mendorong pelan bahu Mia.
Oh.
Betapa Mia lupa taktik yang satu ini, taktik Harris untuk menghindari perdebatan.
Harris akan menggunakan tubuhnya sendiri. Untuk memberitahu Mia bahwa dia amat mencintainya, dan kebersamaan mereka sudah cukup daripada segalanya. Di antara peluh dan lenguh penuh hasrat, Harris akan berusaha mengerus keinginan Mia untuk membuka diskusi.
Mia tak bergerak, juga tak menjawab Harris, jadi sekali lagi Harris mendorong Mia lembut ke arah pintu rumah. "Masuk ke kamar, Mia, nanti aku susul..."
Kali ini, Mia menoleh ke arah tangan Harris yang sedang berada di bahunya, lalu menampiknya. "Nggak mau... Aku tahu Mas Harris jago urusan ranjang, tapi nggak semua masalah bisa diselesaikan di kamar... Selama ini, kita sudah melakukannya dan lihat bagaimana pernikahan kita sekarang???"
Kulit Harris tak terlalu putih, cenderung berwarna coklat terang. Tapi semu merah terlihat di wajahnya, mulai dari pipi, lalu menyebar ke seluruh muka dan telinga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Luka Segar
RomanceSelepas kematian ayahnya yang mendadak, Artemia Mudita memilih menerima pinangan Harris Teguh Prawira. Menjadi istri Harris membuat Mia bisa memastikan Killa, adiknya, tetap berkuliah karena harta keluarga sudah dia rencanakan untuk membayar hu...
