Sambil memanaskan motornya, Lita menyapukan pandangannya teras rumah Mia.
Sepi.
Biasanya, bertepatan Lita menjemput anak-anaknya pulang sekolah, tetangga depannya itu sedang duduk-duduk di teras, entah sambil makan buah, atau sambil main dengan ponselnya. Sekali waktu Mia pernah bilang padanya, kalau di dalam rumahnya terlalu panas, tapi dia tidak terbiasa menyalakan AC atau kipas angin kalau siang.
Lita memajukan motornya hingga roda depan motornya kini keluar sedikit ke jalan. Pintu dan jendela rumah Mia tertutup. Selalu ada kemungkinan Mia tidak ada di rumah. Tapi tetap saja, perasaan tidak enak di hati Lita sulit disingkirkan begitu saja.
Lita berusaha melawan perasaan tidak enak itu. Dia akan mengendarai motor, dan punya pikiran macam-macam bukanlah ide yang bagus kalau akan membawa kendaraan. Setelah membaca doa beberapa kali, Lita kemudian memutar gas motornya, menaikkan kedua kakinya, dan berusaha berkonsentrasi dengan jalanan di depannya.
***
Mia bisa merasakan pinggangnya hampir mati rasa karena terlalu lama duduk di karpet. Meski hanya tangannya yang diikat, tapi gerakannya tetap sangat terbatas. Ponsel dan tablet Mia kini ada di dekat Lukas yang duduk di dekat pintu. Semuanya gadget itu dimatikan.
Secara keseluruhan Lukas terlihat tenang, tapi matanya mendadak nyalang tiap kali mendengar langkah kaki, atau suara derum motor.
"Dipikir-pikir, kalau dari awal saya menggali lebih dalam soal kehidupan Pak Harris, mungkin tingkat keberhasilan saya akan lebih tinggi. Dengan bantuan Bu Mia, pasti Pak Harris lebih gampang melunak...." kata Lukas tiba-tiba.
Mia yang sedang menatap pergelangan tangannya yang lecet terkena pengikat kabel, mengangkat kepala.
"Begitu, ya?" tanya Mia.
"Ya... Pak Harris sepertinya jenis lelaki yang rela mati demi keluarganya. Jadi percuma saja mengancam dia... dia tidak takut apa-apa. Mending seperti ini saja," Lukas menyeringai. Dengan sengaja, matanya turun ke perut Mia.
Mia rasanya ingin muntah ditatap begitu oleh Lukas. Rasanya dia ingin mandi pakai karbol, dan menggosok seluruh permukaan badannya kuat-kuat.
"Pak Harris sudah membuat saya repot," Lukas berdecak. "Yang biasanya mem-backing saya sampai lepas tangan karena terlalu banyak yang memperhatikan... Bu Mia tahu berapa harga yang saya harus bayar untuk menyelesaikan kekacauan kemarin?"
***
Rapat yang diikuti Harris masih berlangsung di ruangan meeting hotel. Harris sedang memperhatikan pemaparan salah satu pegawai dinas KLH setempat, ketika ponsel yang sedang dia letakkan di meja bergetar.
Harris melihat nama yang tertera di ponsel, sebelum meminta izin pada salah satu pejabat yang ada di situ untuk menerima telepon di luar ruangan rapat.
Begitu keluar dari ruang rapat dan sudah di lobi, Harris baru mengangkat teleponnya.
"Pak Harris?" Suara Lita, tetangga depan Mia terdengar. Lita sepertinya berada di tempat ramai--entah mal atau sekolah.
"Bu Lita, gimana Bu?" tanya Harris. Harris mengecek arlojinya.
"Bu Mia sudah pindah, Pak?" tanya Lita. "Atau sedang ke Bandung kayak kemarin-kemarin? Rumahnya kayak nggak ada tanda-tanda kehidupan... Terasnya sepi, padahal biasanya jam-jam segini lagi duduk-duduk ngadem di teras."
Harris merasa bulu halus di lengannya meremang.
Dalam keadaan biasa, frasa 'tidak ada tanda-tanda kehidupan' bukan sesuatu yang bermakna macam-macam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Luka Segar
RomansaSelepas kematian ayahnya yang mendadak, Artemia Mudita memilih menerima pinangan Harris Teguh Prawira. Menjadi istri Harris membuat Mia bisa memastikan Killa, adiknya, tetap berkuliah karena harta keluarga sudah dia rencanakan untuk membayar hu...
