Keluarga Cemara prat 2

17 1 0
                                        

Sesampainya di ruang makan gue langsung membantu Mada untuk naik ke kursi yang dipilihnya. Tak lupa gue juga bertanya kepada Mada apakah dia suka susu cokelat atau mau dibuatkan yang lain. Tapi memang dasarnya menggemaskan, dia malah merayuku dengan mengatakan apapun yang aku buat pasti dia akan suka. Ini anaknya Mas Bima atau anaknya Lingga sih, kok jago bener ngegombalnya.

"Benar tidak mau dibuatkan minuman  yang lain?"

"Iya Tante mama, aku kalau dilumah juga dibuatkan susu cokelat sama ayah"

"Ya sudah kalau begitu selamat menikmati makanannya Mada, semoga Mada suka"

Lingga yang entah berputar lewat mana sampai Mada sudah hampir menghabiskan rotinya tapi pria itu tidak kunjung datang.

Baru saja gue beranjak ingin mencarinya tapi dia sudah berjalan ke arah meja makan.

"Wah sudah hampir habis ya?"

"Iyalah, dari mana aja? Muter lewat mana lama amat"

"Habis ada telepon dari kantor di, katanya ada berkas yang harus ditandatangani tapi aku bilang besok aja soalnya mau quality time sama anak istri"

Lingga ini mulutnya ya.. tapi kok gue jadi deg-degan gini sih begitu Lingga bilang anak istri. Memangnya gue sama Lingga bakal jadi suami istri sungguhan ya? Kok seperti mimpi ya? Kaya cuma khayalan gue gitu. Tapi enggak! Gue nggak boleh ngebiarin ini semua cuma mimpi, apapun yang terjadi gue udah kadung nyaman sama dekapannya Lingga.

"Mau minum apa? Sengaja belum aku bikinin takut kamu nggak cocok"

"Air putih aja, aku kalau pagi nggak bisa langsung ngeteh atau ngopi. Suka begah sendiri perutku"

"Ya udah aku ambilin air dulu"

Gue mengambil air minum yang ada di dispenser dapur untuk Lingga, begitu air penuh gue juga mengisi gelas satu lagi untuk Mada. Masak anak itu nggak minum air putih setelah makan, kalau buat gue emang udah ngambil dari tadi karena kalau pagi emang jarang minum-minum yang berarti. Iya sih kadang minum susu buatan ibu. Oh astaga! dari kemarin malam gue belum ngabarin ibu ataupun Sandi mereka pasti khawatir banget. Gue buru-buru ke meja makan untuk memberikan air minum ini dan mengambil ponsel gue.

"Lingga ini minumnya. Dan Mada ini minum kamu ya. Aku ke kamar dulu mau ngambil handphone soalnya aku lupa dari kemarin belum ngabarin ibu"

Gue langsung ngacir mau naik tangga tapi sebelum itu,

"Sayang hei, sini dulu"

Ishhhh apaan sih Lingga, gue kan mau ngabarin orang rumah kok malah di tahan.

"Duduk sini!"

"Ih apaan sih Lingga, ibu pasi khawatir nyariin aku. Belum lagi Sandi"

"Aku udah ngabarin mereka kemarin. Jadi mereka nggak akan khawatir"

"Kamu tahu nomor mereka dari mana?"

"Gampang itu tanpa membuka handphonemu pun aku bisa tahu nomor orang rumahnmu"

Kok kaya di novel-novel sih, dia ini Intel atau apa. Tapi kalau di novel begitu kan memang begini, setiap orang kaya pasti akan dengan mudah mencari tahu informasi tentang siapa saja.

"Beneran?"

"Nih!"

Lingga menunjukkan sebuah chat yang ada pada aplikasi hijaunya itu. Disitu memang terdapat chat Sandi dengan Lingga. Dia memang sudah memberi tahu orang rumah betulan. Kok senengnya jadi berkali lipat sih, saking senangnya gue jadi kepingin ngecup pipinya Lingga, tapi buru-buru Lingga menghindar dan memberi kode bahwa disini ada makhluk lain juga bernama Mada.

BENANG KUSUTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang