31. Stay with Me

832 47 9
                                        


"Perempuan mana yang tidak sakit hati saat dirinya dianggap tidak berharga?"

***

Sore tadi, Dirga mengirimkan pesan lagi yang berisi ajakan pulang bareng. Miya menjawab oke, karena perempuan itu ingin menemui Dirga dan memperjelas hubungan mereka. Dia sudah salah langkah dengan memanfaatkan Dirga demi bisa menghindari Wren. Perempuan itu tidak ingin memberi Dirga harapan lebih jauh atau membuat pria itu terus mengejarnya. Kalau terus dibiarkan, semua hal akan berubah makin rumit.

Saat tadi meminum obat maag di belakang kafe dan ditemui Wren, Miya sudah memutuskan hubungannya dengan Wren. Dia memperjelas kalau di antara mereka tidak ada harapan meski Wren belum mau menyerah. Lagipula, kalau perempuan itu dapat pekerjaan baru, dia bisa meninggalkan kafe ini dan menjauh dari Wren. Pagi tadi, Miya sudah dapat informasi mengenai wawancara sebagai baby sitter, dan perempuan itu akan melakukannya lusa.

Sekarang, Miya sedang menunggu Dirga di depan kafe. Rekan kerjanya yang lain baru pergi. Citra pulang bareng Regi sedang Irma diantar Pak Harya. Miya tidak diharuskan mengunci pintu kafe malam ini karena Wren masih ada di ruangannya. Belum ada tanda-tanda Wren akan pergi. Namun, sewaktu Miya melirik ke arah kafe, dia melihat Wren keluar dari tempat itu. Wren mengunci pintu kafe lalu tersenyum cerah ke arah Miya. Miya hanya balas tersenyum sekenannya.

"Dijemput Dirga lagi?" tanya pria itu, berusaha keras terlihat biasa saja.

Miya mengangguk sopan.

"Hati-hati di jalan."

Miya membalasnya dengan ucapan terima kasih lalu Wren berjalan pergi meninggalkan kafe, entah pergi ke mana dulu, karena pria itu meninggalkan mobil terparkir di halaman kafe. Sepertinya pria itu akan pergi ke suatu tempat karena berjalan di pinggir jalan menuju perempatan tidak jauh dari kafe. Miya menatap kepergian Wren hingga menghilang di antara lalu lalang orang-orang. Hingga akhirnya, mobil Dirga tiba. Pria itu menghentikan mobil di depan kafe lalu membuka pintu depan yang menghadap ke arah Miya lalu sembari melempar senyum lebar. Miya balas tersenyum lalu memasuki mobil.

"Hai," sapa Dirga.

Miya membenarkan posisi duduknya sambil menjawab, "Hai."

Sewaktu menatap wajah Dirga, Miya mengernyit menyadari sesuatu. Ekspresi pria itu tampak berbeda dari biasanya. Dirga tersenyum manis tetapi dengan wajah yang sedikit memerah dan gegalat salah tingkah.

Penasaran, Miya bertanya. "Kenapa?"

Dirga menggeleng, tetapi itu tidak menepis kegugupan yang menguasai pria itu. Miya jadi heran sendiri. Apalagi, bukannya melajukan mobil untuk mengantar Miya pulang, Dirga malah berkata, "Miy, aku mau bilang sesuatu."

Miya menatap Dirga serius. "Apa?"

Dirga memanjangkan lengannya ke jok belakang mobil dan meraih sesuatu. Kemudian, sebuah buket bunga krisan putih menyembul di hadapan Miya. Senyum pria itu mengembang dan sorot matanya penuh minat.

Mendapat bunga tiba-tiba, Miya terbeliak. Apalagi, saat Dirga berkata, "Aku suka kamu, Miy."

Miya terdiam. Ini di luar prediksi. Harusnya, malam ini Miya memperjelas hubungan mereka hanya sebatas teman dan tidak akan lebih, alih-alih mendapat pernyataan suka. Perempuan itu tidak tahu harus merespons apa. Dia kehilangan kata-kata.

Sadar mobil hanya diisi keheningan, Dirga cepat-cepat menambahkan. "Aku tahu kamu udah tahu soal perasaan aku ini, tapi sekarang aku mau nanya ini sama kamu lagi, Miy. Kamu...mau jadi pacar aku?"

Ada binar harap di kedua bola mata Dirga dan Miya tidak rela menghancurkan sorot tulus itu. Namun, hatinya bukan milik Dirga, bukan pula milik dirinya sendiri. Hati Miya sudah dimiliki orang lain. Segera, Miya memikirkan respons apa yang tepat; tidak menyinggung tetapi tepat sasaran.

Sweet Second Chance [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang