"Jaga kesehatan kamu. Kedepannya, jangan dengerin omongan orang-orang. Kamu harus bahagia."
***
Hari ini, selain membuat muffin, croissant, cupcake, dan cheese cake, Miya juga membuat pudding serta pancake. Menu baru tersebut sudah ditambahkan di aplikasi pemesanan online sehingga mempermudah proses penjualan. Kini, setelah beberapa jam toko buka dan Irma mengatakan pudding sudah habis, Miya kembali membuatnya. Perempuan itu sibuk di dapur sedangkan di sampingnya, Pak Harya sedang membuat nasi goreng untuk pesanan salah seorang pembeli.
Saat sedang menghias puding dengan irisan strawberry dan parutan keju, seseorang mengetuk pintu dapur. Miya memandang orang tersebut lalu tersenyum tipis saat melihat Wren sedang berdiri di ambang pintu. Pria itu memandang Miya dan balas tersenyum lalu berkata, "Sibuk banget nggak, Miy? Bisa bicara bentar?"
Miya mengangguk. "Bisa. Tapi ini aku beresin dua pudding lagi, ya?"
Wren mengangguk. "Aku tunggu di belakang, kalau gitu?"
"Oke."
Wren berjalan keluar setelah sebelumnya menyapa singkat Pak Harya. Pria itu menunggu di belakang kafe dengan perasaan gundah. Kakinya bergerak-gerak gelisah. Wajahnya tampak murung. Tidak lama, Miya muncul dari balik pintu dan berjalan mendekati Wren. Saat mereka sudah saling berhadapan, Miya memandang pria itu ingin tahu, sedang Wren merubah ekspresi wajah seceria biasa.
"Ada apa?" tanya perempuan itu. Dia memandang Wren yang kali ini tampak berbeda dari biasanya. Pria itu memakai setelan yang jauh lebih rapi dengan kemeja hitam dan celana kain dengan warna senada. Rambut pria itu sepertinya baru dipangkas juga sehingga terlihat lebih rapi. Pergelangan tangan Wren dipakaikan jam tangan berwarna hitam dan pria itu memandangnya dengan sorot... sedih? Kedua alis Miya makin mengernyit, penasaran menunggu jawaban Wren atas pertanyaannya.
Wren menelan saliva lalu berkata, "Aku mau pamit."
Miya mengernyit. "Pamit kemana?"
Wren menarik napas dalam-dalam. "Inggris. Ada beberapa hal yang harus aku handle."
"Oh." Miya terdiam, kemudian mengerjap dan mengangguk paham, mencoba mengendalikan ekspresi wajahnya agar tidak terlihat kaget, kecewa, atau pun sedih. Meski berusaha dengan keras, Wren masih dapat melihat raut kecewa dan bingung di wajah perempuan itu.
Pria itu mengepalkan tangan, sedikit memaki salah satu klien super rewel yang membuatnya harus pulang ke Inggris. Sebelum pulang ke Indonesia, Wren sudah menyelesaikan segala tetek bengek mengenai kerjasama dengan salah satu brand fashion ternama di Inggris. Namun, karena kesalahan salah satu pegawainya yang salah mengerti kerjasama mereka, pihak brand fashion itu murka dan meminta ganti rugi. Wren harus turun tangan sendiri karena pemilik brand tersebut memang cerewet sekali dan hanya ingin diskusi langsung dengan Wren.
"Kapan kamu berangkat?" tanya Miya setelah di antara mereka diisi keheningan. Perempuan itu merasa ... terkejut dan kehilangan saat Wren mengatakan akan pulang. Padahal, Miya sudah memprediksi kalau hal ini akan terjadi. Ternyata, kepergian Wren jauh lebih mempengaruhi perasaannya daripada yang Miya perkirakan.
"Sore nanti."
Miya memandang Wren sekilas lalu memandang ke belakang pria itu, tidak membiarkan Wren melihat apa pun sorot mata yang Miya perlihatkan. "Hati-hati di jalan."
Wren menatap Miya dengan intens, sebelum bertanya, "Kamu, nggak mau mengatakan sesuatu selain itu?"
Miya menatap Wren lamat-lamat lalu menggeleng.
Ada sekelebat rasa kecewa di mata Wren. Suaranya sedikit serak saat bertanya, "Kamu nggak akan nahan aku?"
Miya memalingkan muka. "Atas hak apa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Sweet Second Chance [END]
RomanceVitamin #1 He fall first, she fall harder 🙏 *** Setelah kematian sang ayah dan julukan pelakor disematkan untuknya, Miya tidak pernah berharap akan hidup bahagia. Dia hanya menjalani hidup monoton sebagai kasir di kafe Kesempatan Kedua yang mempeke...
![Sweet Second Chance [END]](https://img.wattpad.com/cover/263754560-64-k62875.jpg)