"Sebersalah apa pun perempuan itu, dia tidak berhak mendapat perlakuan kejam dari siapa pun."
***
Syukurlah, siang tadi Qis terjebak agenda lain. Jadi sore ini, Wren aman dari kaus pink Bi Hanhan yang... kalau dipikir-pikir lagi, kaus pink itu sungguh mengerikan!
Sekilas mengenai sejarah kaus pink tersebut. Pada ulang tahun Qis yang ke 20, Bi Hanhan memberikan kaus itu sebagai hadiah ulang tahun. Kaus sebagai hadiah ulang tahun bukan masalah besar. Tapi masalahnya, ukuran kaus tersebut sangat pas di tubuh Qis sehingga memperlihatkan otot-otot di tubuhnya. Pada bagian
Sumpah! Tulisan itu sangat menjijikkan, sampai-sampai Qis harus sekuat tenaga menahan muntah ketika membuka kado tersebutꟷitu hiperbola, tapi ya, bagi pria berusia 20 tahun, kaus ini benar-benar menurunkan derajatnya. Apalagi, font yang dipakai di kaus itu jelek dan desainnya tidak estetis sama sekali. Saat ditanya dari mana kaus itu berasal, Bi Hanhan dengan percaya diri mengatakan kalau dia yang mendesain baju itu sendiri setelah berlatih menggunakan salah satu aplikasi edit foto di laptop barunya. Yah, siapa pun yang melihat momen pembukaan kado tersebut tahu jelas kalau Qis tidak akan pernah memakai kaus tersebut.
Namun, saat acara liburan keluarga ke Ciwidey, Bi Hanhan menyuruh Qis memakai kaus pink tersebut. Sebagai cowok yang anti warna-warna pastel dan desain berantakan, Qis menolak permintaan itu berulang kali. Namun, tidak ada siapa pun yang berhasil menang dari Bi Hanhan. Akhirnya, Qis terpaksa memakai kaus tersebut. Anggota keluarga yang lain hanya memandangnya penuh simpati. Nahas, saat mengunjungi Ranca Upas setelah turun hujan, Qis jatuh dan bajunya kena banyak lumpur. Wren yang ketawa lebar spontan saja mengambil foto atas momen tersebut dan menjadikannya stiker yang digunakan untuk bahan ejek mengejek. Alhasil, stiker itu masih digunakan sampai sekarang di grup percakapan keluarga mereka. Sejak saat itu, Qis bersumpah demi harga dirinya, dia tidak akan pernah memakai kaus pink keramat itu lagi meski Bi Hanhan memberikan ultimatum mengerikan.
Mengingat itu, Wren tersenyum lebar. Dia membelokkan kemudi ke arah persimpangan menuju rumahnya lalu mengingat-ingat percakapan dengan Qis di ruang kerja mengenai Miya dan skandal yang pernah menimpa perempuan itu. Pria itu menyimpulkan setelah skandal itu memuncak, hidup Miya berantakan. Miya pasti sedih, marah, dan terluka. Memikirkan hal itu membuat sesuatu di dalam diri Wren berontak. Miya ... sebersalah apa pun perempuan itu, dia tidak berhak mendapat perlakuan kejam dari siapa pun.
Saat memperhatikan Miya dari pintu ruang kerja sebelum memutuskan pulang, pria itu bertanya-tanya, seberapa banyak hal yang dilewatkannya tentang perempuan itu? Seberapa banyak kehidupan perempuan itu yang telah berubah? Wren belum kunjung menemukan jawaban itu hingga dia sampai di depan rumah.
Rumah ibunya, yang sejak kecil ditinggalinya sampai berusia tujuh belas tahun itu, memiliki desain minimalis dengan cat berwarna putih. Ada satu garasi besar yang sebagian sisinya disulap menjadi rumah kaca dan menyatu dengan taman kecil di depan rumah. Tempat itu adalah tempat favorit ibunya. Dulu, saat pulang sekolah, Wren selalu melihat ibunya ada di sana dengan bunga-bunga yang namanya tidak pernah Wren hafal satu per satu. Banyak hal yang Wren lewatkan tentang tempat ini dan dia perlu mencuri-curi kesempatan untuk kembali mengenal lebih dekat.
Ketika memasuki rumah, ibunya sedang bersandar di sofa ruang tengah. Televisi yang ada di ruangan itu menyala dan menayangkan sinetron remaja berjudul "Cinta Monyet". Menyadari kehadiran Wren, ibunya menegakkan punggung dengan gerakan pelan. Wren bergerak cepat untuk membantunya.
"Kangen nggak, Bu? Ditinggal Wren kerja hari ini?" tanya Wren iseng, setelah sang ibu duduk dengan tegak.
Ibunya terkekeh mendengar godaan Wren. "Kangen banget. Biasanya kan, Ibu ditinggal hampir ribuan jam. Makanya, mumpung sekarang Aa di sini, Ibu mau temu kangen. Sini, deket-deket."
KAMU SEDANG MEMBACA
Sweet Second Chance [END]
RomanceVitamin #1 He fall first, she fall harder 🙏 *** Setelah kematian sang ayah dan julukan pelakor disematkan untuknya, Miya tidak pernah berharap akan hidup bahagia. Dia hanya menjalani hidup monoton sebagai kasir di kafe Kesempatan Kedua yang mempeke...
![Sweet Second Chance [END]](https://img.wattpad.com/cover/263754560-64-k62875.jpg)