5. Bisik-bisik soal Mantan

2.2K 164 1
                                        

"Hidup kita itu udah susah. Jangan mau ditambah beban pacar atau suami yang nganggur dan nggak bertanggung jawab."

***

Ada waktu istirahat langka yang selalu ditunggu-tunggu Miya, Citra, dan Irma. Langka yang dimaksud di sini adalah, mereka bertiga bisa makan siang bareng tanpa perlu bergiliran menjaga kasir. Waktu seperti ini terjadi saat kafe lumayan sepi dan Harya sudah tidak sibuk di dapur sehingga pegawai paling tua itu bisa menangani kasir jika ada pelanggan yang datang. Jadi, tiga pegawai perempuan lainnya bisa makan bareng-bareng dengan tenang.

Waktu istirahat yang langka itu, sedang terjadi sekarang.

Miya beserta Citra dan Irma memutuskan mengisi perut di warung batagor yang tidak jauh dari kafe Kesempatan Kedua. Citra memesan batagor level 5, Irma memesan batagor level 3, dan Miya memesan batagor level 1. Mereka duduk di bangku yang tidak jauh dari pintu keluar warung supaya gampang keluar dari sana. Di samping batagor masing-masing, terdapat teh manis hangat yang didapatkan secara cuma-cuma. Meski warung itu cukup ramai karena terletak di pinggir jalan, celotehan Citra dan kawan-kawan bisa terdengar jelas oleh siapa pun dari dari jarak satu meter."Iya kan Téh, aku nggak bohong. Pak Wren itu bener-bener ganteng, keren, dan berkharisma," kata Citra lalu menyeruput teh manis. Perempuan itu mengonfirmasi gosip mengenai sosok Wren yang tadi disebarkannya.

Irma mengangguk-angguk sambil tetap memakan batagor. "Iya. Aku kira kamu salah lihat, Cit. Biasanya kan, cowok ganteng versi kamu itu aneh."

"Bukan aneh, Téh. Unik," koreksi Citra.

"Aneh, tahu. Masa Doni yang pendek, pesek, dan item gitu dibilang ganteng."

Mendengar Doni, si pelayan di toko mi ayam dekat kafe diungkit-ungkit, Citra membela diri. "Soalnya dia baik, jujur, dan pekerja keras, Téh. Makanya aku bilang dia ganteng."

Irma memutar bola mata dan mengibaskan tangan tidak ambil pusing. Artinya, percakapan mereka soal Doni selesai di sana karena Irma tidak akan menyakiti lagi segala jenis ucapan Citra tentang itu.

Irma menatap Miya. "Kalau menurut kamu gimana, Miy? Pak Wren keren nggak? Dia tipe kamu?"

. Sengaja memperjelas jawaban itu agar tidak perlu diungkit-ungkit lagi.

Dia sudah mencerna pertemuannya kembali dengan Wren, bahkan percakapan terakhir mereka. Perempuan itu menghela napas. Dia merasa senang, marah, sekaligus sedih saat bertemu dengan Wren karena perempuan itu sadar kalau ketertarikan terhadap pria itu masih ada, meski masih samar-samar. Namun, melihat fakta kalau Wren adalah bos sementara di kafe tempatnya bekerja, Miya merasa perlu memasang dinding tebal di antara dirinya dan pria itu. Sudah jelas, mereka tidak akan lebih dari atasan dan bawahan. Meski begitu, dia masih penasaran dengan informasi yang akan Citra paparkan lebih jauh.

"Alhamdulillah. Saingan aku berkurang satu," canda Citra saat mendengar jawaban Miya.

Irma ikut terkekeh. "Kalau Miya sampe maju.... beuh! Kalah total kita."

Miya tersenyum canggung dan kembali melahap batagornya. Itu adalah kalimat candaan yang sering dilontarkan orang-orang padanya, sejak dulu atau sekarang. Kalimat yang membuat Miya tidak suka. Orang-orang selalu mengungkit kalau mereka akan kalah dari Miya hanya karena Miya cantik. Kata sifat itu, melekat padanya bagai sisi baik dan sisi buruk. Merasa tidak akan bisa fokus membaca informasi di layar ponsel, Miya mematikan benda tersebut.

"Eh tapi, memangnya Pak Wren jomlo?" tanya Irma. "Nggak mungkin lah, orang ganteng dan mapan kayak dia masih jomlo, kan?"

Miya menatap Citra, penasaran dengan jawaban atas pertanyaan tersebut. Ah, dia lupa mempertimbangkan hal itu jelas Wren sudah punya pacar. Itu pasti yang membuatnya bersikap seolah masa lalu di antara mereka tidak terjadi apa-apa. Kemungkinan itu membuat dada Miya berdenyut.

Sweet Second Chance [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang