heloww lovee 👋🏻
apa kabar? aku harap kalian semua baik-baik aja yaa.
ga boong, lagi di fase nyiksa banget buat nulis, bahkan buat sekedar nyelesain satu part ini doang :( 😭
Happy Reading!ㅤ
✦Louise✦
🤎🐻
ㅤㅤ
Malam ini, bentangan langit di kota Shanghai tak lagi dipenuhi oleh kerlipan bintang. Cuaca semakin dingin, hingga sedikit hembusan angin bahkan terasa bisa membekukan siapapun dalam sekejap.
Jam pada dinding menunjukkan angka 03:20 pagi, Lou terbangun dengan mata setengah tertutup sembari melirik sekitar.
Melihat keberadaan Lion yang terlelap di sebelah kanannya, Lou baru teringat jika semalam ia tidur ditemani sang kakak.
Menoleh ke sebelah kiri, disana juga terdapat Ravel yang terlihat ikut terpejam dengan damai. Menghadap dirinya dengan satu tangan yang berada dibawah kepala dalam posisi nyaman.
"Aduh, pelan-pelan." Lou menunduk, mencoba menyingkirkan tangan Lion yang memeluk hangat perutnya dengan hati-hati.
Beralih pada Ravel, Lou kemudian mengulurkan tangan untuk mengusap surai lebat sang kakak. "Kalau begini kan enak Lou lihatnya, damai, aman, tentram." gumamnya sok dewasa, sekilas mengingat kelakuan-kelakuan Ravel.
Menepuk-nepuk pucuk kepala Ravel dan Lion secara bergantian, Lou kemudian menyusup keluar dari dalam selimut untuk turun dari kasur.
Lou merasa tenggorokannya kering, ia meraih sandal tidur dan mulai mengenakannya. Melihat suasana kamar yang sepi dan hanya diterangi oleh cahaya keemasan lampu tidur, Lou perlahan berjalan menuju jendela balkon yang sepenuhnya ditutupi oleh gorden tebal.
Memegang ujung gorden, bayi itu kemudian mengintip keluar dengan sepasang netra emasnya yang jernih. Hanya ingin memeriksa sekilas, apakah salju pertama sudah turun atau belum.
Baru sedikit dari ujung gorden di singkap, tepat dibawah terpaan cahaya sinar rembulan yang redup, kedua pupil mata Lou perlahan dibuat melebar sempurna.
"Woah?"
Mulut mungil Lou langsung ikut terbuka lebar, mengerjab tak percaya pada pemandangan di luar mansion saat ini. "Salju benar-benar turun?!"
Dibalik kaca yang telah berembun, dengan dingin yang menyengat jika tersentuh oleh kulit. Ribuan kepingan salju tampak berjatuhan dari atas hitamnya langit, menembus sejuknya udara dingin menghujani seluruh wilayah mansion.
Kepingan kristal es tersebut terus turun layaknya tetesan air hujan yang ringan, melintasi cahaya emas puluhan lampu di seluruh halaman bak serbuk peri yang berterbangan.
"Luar biasa, salju pertama." gumam bayi itu kagum sendirian, terpaku pada setiap kepingan salju yang jatuh hingga hampir menempelkan wajahnya pada kaca.
Dengan situasi yang tak jauh berbeda, diluar kota sana. Seiring dengan detik jam yang saat ini terus berjalan, salju tipis mulai menumpuk di setiap sudut kota Shanghai.
Lou mengedarkan pandangan kebawah mansion, dan menemukan para penjaga di beberapa titik yang telah berganti shift terlihat ikut mendongak. Berdiri tegap dengan tangan dibelakang ikut menatap pada turunnya salju.
Saat Lou hampir tak mengerjab menatap keluar jendela, siluet postur tubuh besar seseorang tiba-tiba mengurung tubuhnya dari belakang.
Ravel, terlihat berdiri di belakang Lou, mengusap pelan surai hitam sang adik hingga membuatnya sedikit tersentak. "Salju benar-benar turun." ucapnya kemudian, ikut memandang keluar.
KAMU SEDANG MEMBACA
LOUISE
FantasiLouise namanya, seorang bungsu dari salah satu keluarga konglomerat di China. Bocah cengeng kelewat manja yang baru menginjak usia 13 tahun. Lou, adalah pecinta susu strawberry, si kecil yang akan mengaum layaknya bayi beruang jika ia sudah marah. L...
