Julid and Ghibah💨 [Intro 02]

637 76 24
                                        

Happy Reading ^^

'Cowok itu harus keluar dari rumah'

Kalimat yang sering kali di jadikan sebagai motto di kalangan anak-anak muda itu tidak berlaku untuk bujang bernama Ragas Prasetya.

Di banding keluar, Ragas lebih memilih untuk membantu sang ibu mengerjakan pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci, atau sekedar mengisi ulang galon—hal nya yang dilakukannya barusan.

Sedangkan sang ayah sudah pergi bekerja sejak beberapa menit yang lalu.

"Ngantri kak? Kok lama banget isi ulang galonnya?"

"Nggak ngantri mi, DAM yang disini tutup jadi kakak ke komplek sebelah. Harus nunggu juga karena baru buka."

Wanita dengan setelan daster itu hanya mengangguk.

"GOOD MORNING EPRIBADEEEE!!"

Ragas memutar bola mata malasnya, melirik ke sumber suara. Dimana pelakunya yang tak lain dan tak bukan adalah Regina sang adik.

Sudah tampil cantik dengan pakaian berwarna senada.

"Mau kemana lo masih pagi begini?" tanya Ragas.

"Ya keluar lah, ya kali waktu weekend begini ngedekem dirumah," singgung Regina kemudian duduk bersebrangan dengan kursi yang diduduki Ragas.

"Sok iye," gumam Ragas.

"Liat nih gue, udah cantik begini di banding lo kutangan doang."

Ragas mendelik, "Ini singlet ya anjir bukan kutang, buta mata lo!"

Regina menjulurkan lidah, dan tanpa menjawab kalimat sarkas kakaknya, dia mengeluarkan benda pipih dari dalam saku. "Selfi dulu ah."

Ragas mendelik part dua, Regina tak peduli. Kamera menyala dan gadis centil itu langsung berpose.

"Cantik dikit, cekrek!" kata Regina. "Cantik banyak, cekrek! Cantik banget... cekrek cekrek upload!" Dia cekikikan sendiri, sementara diseberang meja, ekspresi kakaknya sangat tak mengenakkan.

"Anj- najis, kayak odgj lo!"

"Mami... dengerin tuh si kakak, mulutnya jelek banget."

"Bocil cepu."

"Kakak... kebiasaan," ujar sang ibu yang kemudian meletakkan piring kosong di depan Regina. "Emang adek mau kemana pagi-pagi begini? Sarapan dulu ya.."

"Okay!" Regina tersenyum puas karena mendapat pembelaan. Tapi hal itu tak membuat Ragas merasa tersisihkan sedikitpun, adegan seperti ini sudah sering terjadi.

Toh sang ibu tidak benar-benar membela Regina ataupun menganaktirikan Ragas, itu di lakukannya agar perkelahian kecil yang ribuan kali sering terjadi itu cepat berakhir.

"Kak, nanti anterin gue ya ke rumahnya Nadine," pinta Regina di tengah-tengah kegiatan sarapannya.

"Males."

"Yha kak, masa lo tega biarin gue naik taksi"

"Males, Gina. Lagian lo ngapain sih ke rumah Nadine? Kayak yang nggak tau aja tu anak pasti lagi lomba sama kakaknya."

"Huh? Lomba apaan?"

"Tidur."

Regina mendengus sebal, yang di bilang Ragas kemungkinan besar benar adanya. Nadine kini mungkin tengah berlomba di alam mimpi bersama dengan Javier.

Padahal niat awal Regina ingin mengajak Nadine keliling kota, pergi ke berbagai tempat atau sekedar menonton drama yang sedang ramai di bicarakan teman-temannya.

Siblings Runner - [BaeSure] On Going (Revisi)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang