JANGAN LUPA UNTUK FOLLOW DAN VOTE SEBELUM MEMBACA
Bercerita tentang keluarga Reigan Algarendra dan Zeyna dengan kelima anak mereka yang selalu membuat keduanya mengelus dada.
Butuh beribu-ribu kesabaran bagi mereka mendidik anak yang sudah dewasa n...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jangan lupa vote dan komen yaa Happy reading...
~~~
"Ck, Bang Bian tumben banget hp nya ketinggalan, padahal dia paling gak bisa kalo gak bawa hp," gerutu Saka yang saat ini menyusuri kampusnya dan mengedarkan pandangannya sekitar.
Kelasnya baru akan mulai satu jam lagi, tapi ia harus berangkat lebih awal karena ponsel Bian yang tertinggal di atas meja ruang keluarga. Raka dan Gerry sudah berangkat satu jam sebelumnya, Daniel jangan ditanya, ia pasti sudah nangkring di kantornya karena suatu masalah. Saka mau tak mau harus mengantarkannya sendiri, itulah mengapa ia sedari tadi sudah misuh-misuh sendiri.
Saka celingak-celinguk mencari abangnya itu di luar, mungkin belum masuk gedung. Jika kalian bertanya kenapa tidak tanya saja pada orang sekitar, jawabannya adalah karena ia tidak tahu menyapa orang baru, lebih tepatnya, pemalu. Bahkan saat ada tamu di rumahnya, Saka adalah orang pertama yang akan berlari masuk kamar, tak mau berurusan takut salah bicara. Padahal sedang mempelajari ilmunya, tapi ia sangat jarang mempraktekkannya.
Saka memutuskan untuk masuk ke dalam gedung fakultas abangnya, mungkin saja Bian sudah masuk. Saat ia sibuk mencari keberadaan Bian, orang-orang disekitarnya mulai berbisik satu sama lain.
"Eh, bening banget, gila!"
"Kayaknya bukan anak hukum, deh."
"Cakep banget! Bolehlah gue pacarin."
Tak menggubris bisikan-bisikan tersebut, Saka memilih terus mencari keberadaan Bian di gedung yang luasnya sudah membuat Saka mual, lelah mencari. "Ck, apa gue tanya orang aja kali ya, yakali gue planga-plongo di gedung seluas stadion bola gini."
BRAKK
"BANGSAT!"
•••
Bian menyusuri gedung fakultasnya dengan langkah tergesa-gesa, ia menyadari hp yang ia tinggalkan di rumah saat ia sudah masuk ke dalam kelas.