EPILOG

403 41 2
                                        

Seorang laki-laki mengenakan jaket hitam dengan ragu membuka pintu toko roti yang berada di pinggir jalan, suara lonceng menggema kala pintu terbuka. Toko ini sudah lama tidak memiliki pengunjung, tutup selama tiga bulan terakhir. Tidak ada roti yang tersisa di sana, pemiliknya sudah tidak ada, pun orang yang suka berada di sana juga tidak.

Laki-laki itu menyalakan lampu dekat pintu, kosong, debu terlihat di etalase roti. Butuh waktu berhari-hari sampai ia berani ke sini lagi setelah beberapa bulan yang lalu, sebelum adiknya pergi. Kini, ia kembali ke toko ini dengan segala keyakinannya.

Ia mengambil ember dan lap kain, menuangkan sedikit sabun pada ember yang kini terisi air, lalu dengan cekatan membersihkan debu-debu di sekitarnya.

Tidak. Ia belum mau membuka toko ini secara penuh, mungkin akan membersihkannya terlebih dahulu. Ia juga berusaha meminta tolong pada perempuan yang juga menjadi bagian dari toko ini untuk mengelolanya, demi mengabulkan permintaan di mimpinya.

Sesekali laki-laki itu bersenandung saat membersihkan isi toko, ia membutuhkan waktu sekitar tujuh jam untuk membuat toko itu kembali bersih seperti semula.

Hari sudah menampilkan semburat oranye di luar sana, tapi dia belum mau pulang. Ia ingin beristirahat sebentar, dia sudah berada di sana sejak pukul 10.00 pagi. Saat membersihkan tadi, ia mendapati sebuah ruangan yang menarik perhatiannya, sekalian saja ia membersihkan ruangan itu.

Saat ini, ia gunakan ruangan itu untuk beristirahat. Ruangan itu termasuk ruangan santai, terdapat sofa panjang dengan meja kecil di depannya, mungkin tempat mamanya beristirahat saat bekerja dulu. Di sebelah sofa itu terdapat sebuah rak buku raksasa, memenuhi satu dinding ruangan. Tak heran karena mamanya suka membaca buku, meskipun sudah memiliki lima anak pun mamanya akan terus menyukai membaca.

Saat melihat-lihat sambil menyeruput kopi yang baru saja ia buat, pandangannya tertuju pada sebuah buku yang sedikit mencolok daripada buku lain. Ia meletakkan cangkir kopinya, mendekati rak bagian tengah lalu mengambil buku itu.

Dilihatnya sampul buku itu yang sedikit kotor. Ternyata buku diary. Milik mamanya? Sejak kapan mamanya suka menulis diary?

Karena penasaran laki-laki itu membuka halaman pertama. Betapa terkejutnya ia, napasnya tercekat melihat apa yang ada di halaman pertama. Tertulis pemilik buku itu di sana.

Shaka Dareen Algarendra.

Dengan perlahan, laki-laki itu membuka lembar perlembar. Itu milik adik kembarnya, buku ini ada sejak penyakit itu menyerang adiknya.

21 Februari 2021
Gue pikir sakit biasa, ternyata kanker wkwk
Gue gak tau kenapa punya buku ini, tiba-tiba aja suka nulis.

Semakin Raka membuka halaman buku itu, dadanya semakin sesak.

10 November 2022
Kakak gue dimanfaatin, mana mau gue diem aja. Gue tonjok aja tuh muka sok iye anak pembully, gak peduli mau dia anak polisi atau anak hakim.

Jadi saat itu Saka pergi berkelahi dengan anak pembully itu? Pantas saja laki-laki itu sempat lebam di bagian pipi, tapi Saka tak mengatakan apapun tentang itu.

Tuhan, seberapa bodoh Raka selama ini?

Seberapa banyak luka yang Saka sembunyikan sendirian?

Raka terus membuka lembaran buku itu, dadanya semakin sesak. Di sana juga tertulis di mana ia bertengkar dengan adiknya.

10 Juni 2023
Gue ngamuk ke Raka karena dia milih jurusan yang bukan dia mau, padahal udah gue bilang pindah aja tapi malah ngeyel. Awas aja rengek ke gue minta pindah jurusan, gue bukan rektor!

ALGARENDRAS [SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang