BAB 23 || Rumah Sakit

726 45 16
                                        

Sebagai permintaan maaf
Hehehe
Double up✨🤍

Sebelum kalian lanjut baca, mohon meninggalkan jejak dengan vote yaa👀🤍Salam lope, Ayii💞Next part, make a target for at least 25 votesHappy reading~

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sebelum kalian lanjut baca, mohon meninggalkan jejak dengan vote yaa👀🤍
Salam lope, Ayii💞
Next part, make a target for at least 25 votes
Happy reading~

~~~

Di ruang tunggu rumah sakit, Dara menunggu dengan cemas, tangannya sibuk mengutak-atik hp untuk menelepon siapapun yang ia kenal. Entah kenapa ketiga saudara Algarendra itu malah susah dihubungi di saat seperti ini, ia berulang-ulang menelepon Gerry, lalu Bian, kemudian Raka, tapi nihil.

Entah keberapa kalinya ia memanggil Raka, laki-laki itu akhirnya mengangkat telepon.

"Kenapa?"

Dara menghela napas lega, akhirnya. "Rak, tolong ke rumah sakit yang gue kirim alamatnya. Kakak sama adik lo ada di sini, buruan!"

Seketika mata Raka membelalak, ada apa? Dengan cepat ia menyambar kunci motor di nakas dan berlari keluar rumah, tak lupa menguncinya. Ia melajukan motornya ke rumah sakit yang Dara kirim, butuh sekitar 23 menit untuk sampai tujuan.

Ia memarkirkan motornya, tujuannya adalah resepsionis. "Mbak, pasien yang baru dilarikan ke sini."

Respsionis itu mengangguk mengerti, ia sampai ikut berlari menunjukkan jalan pada Raka. Di lorong IGD, ia dapat melihat Dara yang penampilannya sedikit tidak baik-baik saja. Ruang IGD tertutup, menandakan bahwa dokter masih bekerja di dalam sana.

Raka mengangguk terima kasih pada resepsionis itu kemudian menghampiri Dara.

"Ada apa, Ra?" Tanyanya terlihat khawatir.

"Mereka berantem sama orang pas mergokin Rana," ujar Dara langsung pada intinya.

Raka menghela napas, terlihat frustasi. Ia masih belum mengerti sepenuhnya, tapi mendesak Dara sekarang akan sangat percuma. Ia menuntun gadis itu untuk duduk, tangannya digenggam erat. Tatapan Raka menunjukkan kekhawatiran, fokusnya terpecah kemana-mana. Ia tahu Dara sangat mengkhawatirkan keadaan Saka, ia sangat tahu itu.

Raka menghela napas lagi, berusaha mengatur napasnya yang berat.

"Lo ngapain Saka...." Gumamnya pelan.

Keberuntungan sekali lagi berpihak pada Saka, karena ia dilarikan ke rumah sakit yang sangat sering Saka kunjungi. Sean, ingat tidak? Dokter muda itu memeriksa kondisi keadaan laki-laki yang sudah ia anggap sebagai adik sendiri, perasaan cemas menghantuinya.

"Kamu ngapain lagi sekarang, Saka...." Gumamnya di sela-sela pemeriksaan.

Saat ia keluar dari ruangan, matanya bertemu dengan Raka. Ia tersenyum simpul, sedikit tak menyangka akan bertemu dengannya di sini. Sementara Raka mengernyit, memerhatikan wajah dokter di hadapannya yang nampak tak asing.

ALGARENDRAS [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang