BAB 19 || Harus Pulang

389 48 12
                                        

(TMI) aku baru nyadar judul chapter kebanyakan nama Bian.

Motor Bian melaju kencang, tangannya mengepal erat pada setir motor besarnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Motor Bian melaju kencang, tangannya mengepal erat pada setir motor besarnya. Kepalanya penuh dengan suara-suara tak beraturan, informasi yang Kaivan berikan, kejadian beberapa bulan lalu yang ikut terputar, kehadiran Athar yang tiba-tiba mengisi kekosongannya setelah itu, konfliknya dengan Athar saat masih menempuh perkuliahan, semuanya menyatu seperti benang kusut.

Pantas saja ia tiba-tiba sering berkunjung ke rumahnya, mengajaknya berbicara seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Ah, tidak, ia seharusnya tidak berpikir seperti itu. Papanya selalu berpesan untuk menjaga prasangkanya terhadap orang, Athar mungkin saja benar-benar ingin berteman dengannya. Ah, tidak, ia sendiri tahu bagaimana sikap Athar sebelumnya, sikap dingin dan kasarnya terhadap siapapun yang berurusan dengannya, sikap sombong yang selalu ia tampilkan. Tapi kenapa? Kenapa harus dia? Kenapa harus keluarganya yang ia jadikan sasaran?

Bian menepikan motornya di sebuah tol yang cukup lengang, entah di mana ia berada sekarang. Ia turun dari motornya, menendang kesal rerumputan di pinggir jalan, berteriak frustasi mengisi kekosongan malam. Kata-kata kasar keluar dari dalam teriakannya, berharap pikirannya akan tenang setelah itu.

Bian memarkirkan motornya, menyugar rambutnya yang sedikit berantakan setelah membuka helm. Ia berjalan di lorong parkiran, langkahnya terhenti di lobi hotel setelah matanya bertemu dengan sosok wanita kemarin yang ia temui kemarin. Kakinya segera berbelok ke arah resepsionis, menghindari wajahnya sedemikian rupa saat dua manusia berbeda kelamin melewatinya.

Mereka sempat mendekati resepsionis, mengembalikan kunci. Sementara Bian berpura-pura menulis sesuatu di atas lembar kosong yang tersedia, sebisa mungkin tidak menampakkan wajahnya. Wanita itu tidak menyadari kehadirannya, sibuk bercengkerama dengan pria bertubuh besar di sampingnya, mereka keluar beriringan dengan lengan sang pria memegang pinggang wanita itu.

Bian mengepalkan tangannya sekali lagi saat melihat mereka masuk ke dalam mobil, matanya menatap nyalang pada wanita itu. "Bangsat." Ia mengatupkan rahangnya, membenci apa yang baru saja terlihat.

"Permisi kak, ada yang bisa saya bantu?" Suara ramah tapi ragu-ragu dari sang resepsionis membuyarkan tatapannya. Tangannya yang semula terkepal erat terurai, matanya beralih pada sang resepsionis di depannya.

"Eh, nggak mbak. Maaf, permisi," ucapnya segera lalu meninggalkan lobi. Bian berjalan memasuki lift, naik ke tempat adiknya berada. Namun, pikirannya tetap pada saat wanita dan pria yang terlihat lebih tua itu melewatinya.

"Rana sialan. Lo main-main sama keluarga gue, bangsat." Gumamnya. Hasratnya bergejolak ingin memberitahukan hal ini pada kakaknya, tapi ia menyadari sesuatu yang membuat tangannya kembali terkepal erat, ruas-ruas jarinya memutih, "sial. Gue gak sempet ambil bukti."

Ia berjalan menyusuri lorong hotel, tangannya menggantung di udara saat ingin membuka pintu kamar. Otaknya kembali memikirkan keberadaan Saka di sana, adiknya tidak seharusnya menemaninya. Ia ingin Saka kembali ke rumah, selain keinginan dirinya untuk pergi sendiri, ia tidak ingin memnyeret Saka terlalu jauh dari saudara lainnya.

ALGARENDRAS [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang