BAB 22 || Dara

351 40 7
                                        

Haiiiii
Hehehe
Apa kabar?

Sebelum baca, aku mau kalian meninggalkan jejak vote dulu✨✨Happy reading~

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sebelum baca, aku mau kalian meninggalkan jejak vote dulu✨✨
Happy reading~

~~~

Dara duduk di sudut ruangan, tangannya saling menggenggam di atas pangkuan, jemarinya bergerak gelisah. Panti asuhan sedang ramai, anak-anak berlarian ke sana kemari, tawa mereka memenuhi udara. Biasanya, suasana ini memberinya ketenangan, tapi tidak hari ini.

Kepalanya penuh dengan informasi yang selama ini ia dapat dari Jarrel. Tentang Rana. Pun tentang yang ia lihat sendiri.

Dara berdiri di sudut kafe, jari-jarinya mencengkeram ponsel erat. Pandangannya tertuju pada sosok di seberang ruangan-Rana, duduk berdua dengan seorang pria yang jelas bukan Daniel.

Bukan sekadar duduk, tapi tangannya melingkar manja di lengan lelaki itu, jemarinya sesekali bermain di ujung kemeja pria tersebut. Senyumnya sama seperti yang selalu ia tunjukkan pada Daniel-manis, penuh pesona. Bedanya, kali ini bukan Daniel yang duduk di hadapannya.

Dara menahan napas, mengangkat ponselnya, lalu menjepret beberapa foto. Bukan pertama kalinya ia melihat ini.

Beberapa hari lalu, ia juga melihat Rana keluar dari sebuah mobil dengan pria yang berbeda. Sebelumnya lagi, ia menangkap Rana bergandengan tangan dengan seseorang di pusat perbelanjaan. Setiap kali Dara mencoba mengabaikannya, kenyataan ini justru terus menghantui.

Rana berselingkuh.

Tapi, beranikah ia memberi tahu Daniel?

Dadanya terasa sesak. Ia ingin segera memberi tahu Daniel, tapi ada sesuatu yang menahannya. Haruskah ia membicarakannya pada Daniel? Bagaimana kalau dia tidak percaya? Bagaimana kalau hal itu berujung terbalik dan Daniel malah memarahinya? Bagaimana kalau Daniel malah membencinya?

Dara menggigit bibirnya, matanya menatap anak-anak yang sedang bermain di halaman. Ia menarik napas dalam, tapi kegelisahan itu tetap ada, menekan dadanya tanpa ampun.

Ia tidak ingin terus-terusan membiarkannya, tapi ia bingung harus memulai dari mana.

Ngomong ke Saka aja kali ya?

Ia menggeleng. Itu ide buruk. Saka tidak ada sangkut pautnya dalam hal ini, ia memang harus berbicara langsung pada Daniel.

Perhatiannya teralih ketika anak-anak panti itu berteriak gembira, berlari menuju seseorang yang berjalan masuk.

"KAK SAKA!!"

"KAK SAKA, AYO MAIN!"

"BANG SAKA, AYO MAIN PETAK UMPET!"

"KAK DARA BELIIN AKU MAINAN, AYO MAIN KAK!"

"KAK SAKA, AKU KANGEN!!"

Suara ricuh dari anak-anak di sekitarnya hanya membuat Saka terkekeh gemas, "iya iya nanti main ya, kakak juga kangen."

ALGARENDRAS [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang