JANGAN LUPA UNTUK FOLLOW DAN VOTE SEBELUM MEMBACA
Bercerita tentang keluarga Reigan Algarendra dan Zeyna dengan kelima anak mereka yang selalu membuat keduanya mengelus dada.
Butuh beribu-ribu kesabaran bagi mereka mendidik anak yang sudah dewasa n...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
I'm Backk!!! gak bosen-bosen aku minta tolong ke kalian press the vote botton below😘
Happy reading✨✨
~~~
Buruk.
Satu kata yang terlintas di pikiran Gerry untuk keadaan saat ini. Ia sempat meminta dokter untuk memeriksa kondisi ginjal Saka, hasilnya fungsi ginjalnya semakin melemah.
Pagi ini Gerry sudah meminta surat rujukan kepada pihak rumah sakit agar mendapat perawatan yang lebih baik, sempat Saka tolak, tapi Gerry marah.
"Jadi, lo mau-mau aja mati sekarang?" Tanya Gerry saat membereskan barang-barang Saka tadi pagi.
Raka, yang tak terima adiknya dipojokkan, hendak memukul Gerry sebelum Bian dengan cepat menahannya. "Lo keterlaluan, tahu gak?!"
"Lebih keterlaluan mana sama orang yang sembunyiin sakitnya dari saudaranya? Lo juga keterlaluan, kalau lo lupa," bantah Gerry.
Daniel yang melihat itu menghela napas. "Ger, udah." Ia kemudian beralih pada adik bungsunya. "Sak, gue minta tolong nurut, ya. Gue bakal cari bantuan apapun buat lo sembuh, sekaligus transplantasi ginjal.
Saka menatap Daniel tak percaya. "Tapi, Mas, biayanya-"
"Gak usah mikirin biaya. Kita bakal usahain semuanya," sela Bian dengan tegas.
Saka beralih menatapnya, ketegasan itu, sorot tajam Bian.... Tuhan, apa selama ini ia memang hanya membuat mereka terluka?
Apakah takdirnya memang seperti ini? Ditinggalkan lalu meninggalkan?
Tidak. Ia yang bilang semuanya akan baik-baik saja jika bersama, ia yang bilang seperti itu. Ia harus mempercayai saudara-saudaranya.
Di sinilah dia sekarang, di dalam ruangan rumah sakit yang sering ia kunjungi. Sean, dokter yang sangat mengenalinya, kini memeriksanya.
Mereka semua di dalam ruangan Saka. Raka sedari tadi memerhatikan sang dokter, matanya memicing. Setelah selesai, ia menghampiri Sean saat dokter itu mbalikkan badan.
"Lo yang pernah nabrak gue di perpustakaan itu, kan?" Pertanyaannya mengundang tanya bagi siapa pun yang mendengarnya.
Namun, berbeda dengan yang lain, Sean tersenyum. "Ternyata kamu masih ingat saya, ya?"
Mata Raka menyipit, entah mengapa, ia sangat tidak menyukai orang di hadapannya ini.
"Jadi ini maksud lo 'kita bakal ketemu lagi'? Kenapa lo gak ngasih tahu gue waktu itu? Lo dokter asli, kan? Gue keluarganya. Atau lo sebenarnya dokter palsu juga kayak yang udah-udah?" Sedari tadi nada bicara Raka sudah tak santai, menunjukkan bahwa ia kesal.
Sean sedikit terkejut mendengar penuturan Raka. "Dokter palsu? Saya bukan orang yang seperti itu. Bagaimanapun seorang dokter juga memiliki regulasi hukum. Itu semua karena Saka yang meminta sendiri, Raka. Saya sebagai dokter tidak bisa melanggar hukum."