JANGAN LUPA UNTUK FOLLOW DAN VOTE SEBELUM MEMBACA
Bercerita tentang keluarga Reigan Algarendra dan Zeyna dengan kelima anak mereka yang selalu membuat keduanya mengelus dada.
Butuh beribu-ribu kesabaran bagi mereka mendidik anak yang sudah dewasa n...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jangan lupa vote sebelum dive in❤️✨✨ Happy reading
~~~
Saka kini masuk ke ruangan dokter, raut mukanya terlihat bahwa ia kesal. "Kak, kenapa harus sekarang sih? Mereka bisa curiga."
Sean menghela napas, tatapannya tertuju pada laki-laki yang sedikit lebih tinggi darinya. "Kamu harus lebih banyak istirahat, Saka. Waktu pencucianmu kakak tambah."
Mata Saka membulat, yang benar saja? Dua kali dalam seminggu saja sudah membuat Saka mual, ini malah ditambah. Belum sempat ia mengomel, Sean mengeluarkan sebuah kertas dari saku jasnya yang kemudian diterima oleh Saka.
"Hasil tes darah kamu," ujar Sean singkat.
Dengan cermat Saka membaca kata demi kata, tidak ingin luput satupun. Raut mukanya berubah, dadanya sakit, seakan dihantam bebatuan besar yang kemudian dicabik-cabik oleh benda tajam.
Dibukanya perlahan kertas terlipat itu, seakan ia belum siap untuk segala hal yang berada di sana. Matanya bergulir untuk membaca setiap kata di kertas itu. Buruk. Semuanya buruk.
Tangannya gemetar, kertas di genggamannya nyaris kusut karena tekanan jari-jarinya yang menguat tanpa sadar. Kata-kata medis itu, angka-angka yang tidak ia mengerti seluruhnya, tapi cukup untuk memberinya satu kepastian bahwa tubuhnya semakin menolak untuk bertahan.
Ia kembali menatap Sean, air matanya hampir menetes dari sudut mata. Tatapannya penuh harap, juga tatapan putus asa. Sean menggeleng tegas, seolah ia tidak membenarkan tatapan itu.
"Kamu pasti sembuh, Saka. Tolong percaya pada dirimu sendiri," ujar Sean. Namun, perkataan itu hanya membuat air mata Saka semakin deras mengalir. Ia sangat berharap, sangat, tapi apakah mungkin?
Saka tidak pernah berhenti berdoa, agar setidaknya, penyakitnya bisa ditangani. Namun nyatanya, Tuhan berkehendak lain. Entah bagaimana lagi ia meminta, seolah kepergiannya telah ditentukan, ia memilih berhenti berharap.
. . . . .
Ceklek
Suara pintu terbuka terdengar yang kemudian menampilkan sosok laki-laki tinggi yang sudah tidak mengenakan baju rumah sakit, ia tersenyum kecil kala seorang gadis mendekatinya. Kehadirannya disambut senyuman oleh gadis itu.
"Dokter bilang apa?" Laki-laki itu menggeleng. Bukan apa-apa.
Tatapan laki-laki itu beralih pada wanita yang juga memerhatikannya, senyum teduhnya mampu membuat Saka merasa tenang. Setidaknya untuk saat ini.
"Bunda kapan ke sini?" Tanya Saka
"Baru aja, tadi papasan juga sama Dara."
Saka mengangguk paham, wanita yang ia panggil 'Bunda' itu menghampirinya. Tiara mengangkat tangan hanya untuk mengusap kepala Saka, hal yang Saka suka.