JANGAN LUPA UNTUK FOLLOW DAN VOTE SEBELUM MEMBACA
Bercerita tentang keluarga Reigan Algarendra dan Zeyna dengan kelima anak mereka yang selalu membuat keduanya mengelus dada.
Butuh beribu-ribu kesabaran bagi mereka mendidik anak yang sudah dewasa n...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jangan lupa vote dan komen, love y'all Happy reading✨
~~~
"Bian Putra Algarendra, Anda dipersilahkan untuk meninggalkan ruang sidang."
Bian mengangguk, mengucapkan terima kasih sebelum keluar dari ruangan dengan keringat membasahi seluruh tubuhnya. Namun, tak urung ia melemparkan senyum lebar saat mendapati dua adiknya di luar. Ia berjalan mendekati mereka seraya mengusap peluhnya dengan telapak tangan. "Niat banget lo berdua nungguin gue."
"Mumpung gak ada kelas, gimana bang?" Bian hanya tersenyum mendengar pertanyaan dari sang bungsu.
"Jangan senyum aja lo, bang. Bilang hasilnya...!" Sentak Raka kesal.
Bian semakin tertawa melihat mereka yang tak sabaran, ia mengangguk dengan masih menampilkan senyum yang masih merekah. Raka menghela napas lega, entah kenapa firasatnya mengatakan bahwa Bian memang akan berhasil kali ini, sedangkan Saka sudah berseru heboh.
"WOO!!! ABANG GUE LULUSSS!!!"
Bian refleks memukul bahu Saka, jari telunjuknya menempel pada bibir adiknya. "Sstt, jangan teriak di sini Sak, di dalem masih ada penguji." Sontak Saka menutup mulutnya rapat-rapat, masih tersenyum lebar, ia kemudian merangkul abangnya yang diikuti Raka.
Mereka meninggalkan ruangan yang terasa seperti Padang Mahsyar itu dengan semangat, dari kejauhan Bian melihat Kaivan sedang duduk di bangku sendirian.
Saka segera menghampiri Kaivan. "KAK KAIVAN! YUHUU! LIAT GUE BAWA BERITA APA?!!" Dapat dilihat kalau Kaivan menampilkan senyum tipisnya. "Gimana?"
"Jangan tanya gue dong! Tanya sama yang bersangkutan nih!" Saka menepuk pundak kakaknya dengan semangat. Bian yang mendapat tatapan seolah bertanya itu mengangguk, senyumnya tak luntur sedari tadi.
"Congrast," ucap Kaivan lalu memeluk Bian seraya menepuknya bangga.