JANGAN LUPA UNTUK FOLLOW DAN VOTE SEBELUM MEMBACA
Bercerita tentang keluarga Reigan Algarendra dan Zeyna dengan kelima anak mereka yang selalu membuat keduanya mengelus dada.
Butuh beribu-ribu kesabaran bagi mereka mendidik anak yang sudah dewasa n...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Gabut banget pengen up Hehehe Jangan lupa tap bintang sebelum dive in✨☝️ Happy reading~
~
~~
Tiga hari Saka 'terlelap'. Tiga hari itu pula ada banyak hal yang terlewat. Bian dipukuli oleh Gerry selepas dirinya ke kantor polisi dengan Daniel, teriakan mereka sampai terdengar oleh tetangga. Tak ingin buat keributan, Daniel segera melerai mereka, mengucapkan maaf pada para penghuni kompleks.
Rana ditahan, semua kelakuan tidak bermoralnya terungkap oleh polisi. Tinggal menunggu waktu saja dia dibawa ke pengadilan. Orangtuanya marah, sempat ke rumah Daniel dan memaki pria itu, tapi tentu saja Daniel tidak terima. Ia mengungkap semua hal yang perempuan itu lakukan padanya, bagaimana perempuan itu memanfaatkannya, membohonginya.
Bukannya meminta maaf, ibu Rana malah membalas, "kamu yang bodoh! Mau saja ditipu. Saya pikir kamu cukup pintar dalam menilai seseorang, ternyata kau terlalu buta."
Siapa yang terima dikatai seperti itu? Tentu saja tidak ada. Daniel membalas dengan kesal, tangannya terkepal menahan gejolak untuk tidak melempar makhluk di hadapannya ini.
"Saya mungkin bodoh karena percaya, tapi setidaknya saya tidak membesarkan orang yang menipu dan menyakiti orang lain. Kalau saya buta, berarti Anda yang tutup mata."
Orangtua Rana pergi, masih kesal, dan malu. Berani-beraninya anak itu berkata seperti itu. Padahal mereka saja yang masih bersikap denial, ingin selalu menang dalam segala hal dan menghalalkan cara apapun untuk mendapatkannya. Cih. Dasar orangtua.
Kemarin Rakha, kakak Zeyna, dengan keluarganya menjenguk. Ruangan Saka ramai dengan tiga kembar yang sudah dewasa, sepupunya. Namun, di saat seperti itu saudara-saudara Saka malah sibuk bertengkar di rumah. Menyisakan Dara yang senantiasa menjaga Saka, Asha disuruh pulang oleh Gerry untuk istirahat, sebenarnya Dara juga tapi tentu saja gadis itu menolak. Untung saja ia lumayan dekat dengan keluarga Rakha, tapi tetap saja canggung.
Dara merasa bersalah, ia tidak seharusnya menyeret Saka dalam masalah ini, ia hanya tidak memiliki keberanian untuk langsung mengutarakannya pada Daniel. Tetapi bukan ini yang Dara inginkan. Saka tertidur, enggan membuka mata. Cemas sekali Dara dibuatnya. Sebenarnya apa yang terjadi? Apakah lukanya memang separah itu?
Kini, dengan derai air mata, Dara berdiri di samping ranjang laki-laki pucat itu. Tangannya menggenggam erat milik Saka kala laki-laki itu membuat pergerakan. Daniel yang juga berada di sana memencet bel yang berada di nakas, gerakannya mendesak. Dara, yang sedari tadi memegang tangan Saka tak mau lepas, terisak meskipun pelan.
Saka meringis, matanya mencoba menyesuaikan dengan pencahayaan ruangan. Tenggorokannya sakit, badannya remuk, semuanya terasa perih.
"A-air...." Suaranya terdengar lirih, sangat lirih sampai dua orang yang sedari tadi panik bercampur lega tidak mendengar. Namun Dara yakin ia berbicara sesuatu, ia mendekatkan telinganya ke bibir laki-laki itu, mencoba menangkap apa yang Saka katakan.