JANGAN LUPA UNTUK FOLLOW DAN VOTE SEBELUM MEMBACA
Bercerita tentang keluarga Reigan Algarendra dan Zeyna dengan kelima anak mereka yang selalu membuat keduanya mengelus dada.
Butuh beribu-ribu kesabaran bagi mereka mendidik anak yang sudah dewasa n...
pov: gen Z nulis cerita di wattpad (update kalo mood hehehe) Tapi aku juga seneng ada yg baca smpe sini🤍✨ Tolong yaa, satu like dari kalian bikin aku semangat update🤍✨✨✨
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
⚠️⚠️⚠️ Part ini mungkin agak sensitif.
~~~
"Bian sama Saka ke kantor polisi, Niel. Mereka bawa rekaman, katanya buat dianalisis, buat buktiin kalau kecelakaan itu gak murni kecelakaan."
Daniel mengerutkan alis, duduk tegak di ranjangnya. "Rekaman apa? Emangnya dari mana mereka-"
"Jadi lo beneran gak tau?" Nada suara Revan naik sedikit, seperti menahan kekesalan. "Mereka udah bolak-balik ke sana. Nyerahin bukti, nunggu update, nanya-nanya terus. Kadang Bian doang yang dateng, kadang mereka berdua. Mereka gak nyerah, Niel."
Daniel tercekat. Tak ada jawaban yang bisa ia berikan, karena memang benar-dia sama sekali tidak tahu.
"Lo itu kakak sulung, Niel. Harusnya lo yang paling depan buat nyari keadilan, nyemangatin adik lo, bukan malah gak tau apa-apa. Kalau gak bisa bantu ya jangan cuek, mereka butuh dukungan lo."
Tak ada teriakan dalam kalimat itu, tapi justru karena itulah kata-kata Revan terasa menampar lebih keras.
Setelah panggilan terputus, Daniel hanya terduduk, diam dan termenung di kamar gelapnya. Suara Revan terngiang terus di kepalanya, menyisakan sesak yang perlahan berubah jadi rasa bersalah yang menusuk dalam.
Sekali lagi Bian.
BRAKK
"SAKA!"
"Anj-"
Teriakan seseorang membuat Daniel kaget bukan kepalang, di sana terdapat tiga manusia berbeda jenis masuk dengan ribut. Dua perempuan sedang mencoba menenangkan seorang laki-laki yang kini melotot ke arah Daniel, sang empu hanya menatapnya bingung
"Kak Gerry, udah kak." Terlihat seorang perempuan sedang mencoba melerainya, membuat Daniel semakin bingung saja.
Dengan cekatan Gerry menarik kerah baju rumah sakit milik Daniel membuat sang empu tertarik ke depan.
Satu tarikan napas.
"Udah gue bilangin kan kalau cewek lo itu sinting, tapi lo gak pernah dengerin gue. Gue udah dikasih tahu Raka kalau lo bertindak hal bodoh, dan bahkan lo juga nyeret Dara ke dalam masalah konyol lo itu. Lo lihat sekarang apa yang lo lakuin gara-gara ketololan lo itu? Adik gue kena imbasnya. Dara juga repot-repot ke sini, ini akibat dari kegoblokan lo itu. Untung ada Saka, kalau nggak lo bakal babak belur sendirian. Main nerobos masuk ke apartemen orang, lo pikir gedungnya milik emak lo? Mikir. Lo kalau mau tolol ya tolol sendirian aja gak usah bawa-bawa orang, bego."
Gulp.
Daniel hanya diam, begitu pula perempuan yang namanya disebut-sebut melihat pemandangan di depannya dengan mulut terbuka. Gila, Kak Gerry napas cuma sekali.