BAB 9 || Graduate

356 45 4
                                        



Happy reading🥰

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Happy reading🥰

~~~

Ruangan 40×60 meter itu berisi ratusan orang dengan para petinggi di atas panggung,  seorang pembawa acara menyebut satu persatu para wisudawan.

"Bian Putra Algarendra dengan nilai Indeksi Prestasi Kumulatif 3,83"

Terdengar tepuk tangan yang menggema di ruangan saat satu nama itu dipanggil, sedangkan laki-laki yang dipanggil mulai bercucuran keringat, ia segera bangkit dan melangkah gugup, tangannya sedikit gemetar setelah menerima ijazah dan berjabat tangan dengan rektor.

Setelah 4 tahun berjuang melewati banyak hal dan rintangan, ia berhasil lulus dengan nilai tinggi. Jika boleh jujur, Bian ingin menangis, ia merasa sangat bangga pada diri sendiri karena sudah memilih bertahan berjuang hingga akhir. Ia mendongak sekilas saat turun dari panggung, mamanya mengacungkan jempol dengan senyuman merekah lebar. Melihat hal itu air matanya lolos begitu saja, ia tidak akan menjadi seperti ini kalau bukan karena dukungan dan do'a yang setiap hari mamanya lontarkan. Kegiatan-kegiatan yang membuat Bian sedikit tertekan seolah-olah sirna karena setiap hari mamanya tak absen untuk memberinya dorongan semangat.

"Ck, mana, sih?!" Gerutu Daniel sambil menelisik pintu utama aula yang dipenuhi banyak manusia. Saat ini, empat laki-laki sedang menunggunya di bawah pohon rindang sejak satu jam yang lalu, termasuk mamanya.

"Buset banyak juga, ya wisudawan sekarang," ucap Raka yang malah takjub dengan banyaknya mahasiswa yang keluar dari aula menggunakan toga wisuda. Saka mengangguk, ia ikut mencari abangnya yang belum terlihat sedari tadi, ia menoleh pada wanita di sampingnya, menatap khawatir.

"Mama duduk aja dulu di mobil, nanti kalo Bang Bian dateng Saka jemput."

Zeyna merengut. "Gak lah, ya kali. Kamu kira mama gak kuat menopang tubuh?"

Saka menyengir saja karena ucapan Zeyna. "Siapa tau, kan?"

"Nahh, ini dia manusia yang kita tunggu!!!" Seru Daniel setengah bangga setengah kesal, mampu membuat yang lain menoleh, melihat laki-laki yang kini membawa banyak buket dan kartu ucapan mendekat dengan cengiran khas-nya. "Jualan buket lo?"

"Biasaa, orang ganteng," jawabnya asal pada sang kakak sulung. Cengirannya berubah menjadi senyum manis saat menghampiri Zeyna.

"Mama...."

Zeyna ikut tersenyum, mendekati anak tengahnya itu seraya merentangkan kedua tangannya. Bian mendekat, membalas pelukan mamanya.

"Selamat, ya abang, you did your best."

Bian mengerjap saat mamanya menyerahkan paperbag berukuran sedang.

"Ma, waktu itu, kan udah."

ALGARENDRAS [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang