JANGAN LUPA UNTUK FOLLOW DAN VOTE SEBELUM MEMBACA
Bercerita tentang keluarga Reigan Algarendra dan Zeyna dengan kelima anak mereka yang selalu membuat keduanya mengelus dada.
Butuh beribu-ribu kesabaran bagi mereka mendidik anak yang sudah dewasa n...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Semoga cerita ini gak lumutan💃
Happy reading~~
~~~
"Sak, gak usah ngampus dong."
Saka mencibir, "congor lo minta gue pukul."
"Lo gak bosen apa kuliah mulu?"
"Mentang-mentang lulus anjir, mending lo ke toko, eh nggak deh, bisa kabur pelanggannya kalau lo yang jaga toko."
"Gak lah, yang ada mereka bakal terpesona sama kegantengan gue."
"Pas makan kue buatan lo jadi trauma tujuh turunan."
Gerry mendelik, "yang sopan."
"Udah ah, mending gue belajar menuntut ilmu sampai ke negeri Eropa."
"China."
"Terserah gue lah, ngatur lo."
Saka memilih masuk ke dalam kamar, ia bertemu dengan Bian di tangga, "mau kemana lo?"
"Kepo banget anak abah."
"Awas aja lo main."
"Emang."
"Dih, gue ikut," teriak Gerry dari bawah. Bian kesal sendiri melihatnya, dia bukan hanya ingin bermain.
"Gak mau, lo kayak yang gak punya temen aja dah."
Gerry cemberut, lebih baik ia masuk kamar. Sebenarnya ia sedang bekerja di salah satu rumah sakit, namun jam kerjanya dimulai siang nanti, ia memutuskan untuk bermain game terlebih dahulu.
Kangen mama papa.
Ia berpikir sejenak sebelum akhirnya beranjak dari kasur, tidak jadi main. Mengintip keluar kamar, dilihat dari suasana rumah nampaknya semuanya sudah pergi. Ia memilih bersiap-siap, menggunakan motor ninja, ia pergi ke arah pusat kota. Berkeliling sampai akhirnya berhenti di sebuah toko bunga. Harum menerpa indra pembaunya, dengan aneka bentuk dan warna, ia melihat deretan bunga yang terlihat segar.
"Ada yang bisa kami bantu mas?"
Gerry menoleh, "ada bouquet anyelir merah yang ready gak mbak?"
"Oh ada mas, mau saya siapkan?"
Gerry nampak berpikir sebentar, "kalau anyelir merah sama mawar kuning mbak?"
Florist di depannya dengan sabar menjawab, "nggak ada mas."
Gerry menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia bertanya lagi, dengan hati-hati, "kalau bouquet mawar kuning mbak?"
"Ada mas, jadi mau pesan yang mana?"
"Ee... dua-duanya aja mbak."
Sang floristmengangguk lalu meninggalkan Gerry yang masih apik menatap bunga-bunga yang berjejeran.