BAB 31 || Saudara Kembar

400 45 29
                                        

Jangan lupa vote sebelum membaca✨

Jangan lupa vote sebelum membaca✨

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


~~~

"RAKA!"

Seketika Raka menoleh. Detik berikutnya yang ia rasakan adalah Bian menariknya untuk berdiri sebelum akhirnya hantaman keras tertuju pada rahangnya. Raka terlempar ke belakang, menabrak sisi ranjang yang membuatnya meringis.

"LO GILA, HAH?! LO MAU BUNUH DIRI LO SENDIRI DENGAN CARA INI, GITU?!"

Teriakan Bian terdengar ke seluruh penjuru rumah, ia mengambil benda kecil itu dan menggenggamnya erat. Pegangan benda itu ia patahkan, salah satu tangannya berdarah terkena bagian berbahaya.

Raka melotot, seketika dadanya sakit melihat darah itu merembes dari tangan Bian. Ia mencoba bangkit, tapi lemparan Bian cukup memberikan sakit kuat pada tubuh Raka.

"BANG BIAN, TANGAN LO BERDARAH!" Teriaknya panik.

Ternyata keributan ini memancing dua kakak tertuanya untuk ikut masuk, mata Daniel melebar kala melihat darah Bian jatuh ke lantai.

Bian hanya memandangi Raka dingin, genggamannya mengerat pada benda tajam itu. "Terus apa? Bukannya lo udah terbiasa lihat darah dari apa yang lo lakuin? Kenapa sekarang panik?"

"Bang, gue serius, lepasin siletnya!" Raka menggeram marah, dadanya berdenyut sakit melihat darah itu terus menetes ke lantai kamar.

"Terus gimana kalau kejadiannya ada di lo? Lo pikir gue gak takut lihat lo perlahan mati karena benda sialan ini?"

Dua orang yang baru menyaksikan itu menganga tak percaya. Mereka hanya terdiam, mencoba mencerna informasi yang baru saja diterima.

Raka yang kini merasa terpojokkan mengepalkan tangan, rahangnya mengatup keras. "Gue capek! Gue capek harus terus kuat di depan semua orang, gue capek harus terlihat sempurna, gue capek harus pura-pura senyum padahal gue gak lagi baik-baik aja!"

Teriakan itu seolah menghentikan semuanya, seolah hanya ada mereka dalam kukungan kepalsuan. Air mata yang sedari tadi membendung, kini mengalir deras. Bian terdiam, baru kali ini mereka melihat Raka mengeluarkan isi hatinya, baru kali ini Raka menunjukkan kelelahannya.

"Gue capek harus ikut-ikutan jadi yang terbaik bareng kalian, gue hapus semua mimpi gue biar gue gak keliatan rendah. Tapi gue capek harus terus pura-pura," suaranya terdengar bergetar, air matanya mengalir tak henti.

"Gue mau lepas dari topeng ini, gue mau keluar dari sandiwara ini. Gue capek.... Gue gak tahu kemana tujuan gue sebenarnya. Gak ada yang bisa gue lakuin di dunia ini, gue cuma jadi beban buat adik gue, gue cuma pasang muka di depan kalian semua. Gue pengen mati."

BUGH

"BIAN!"

Yang diteriaki tak peduli, ia menarik kembali kerah baju Raka untuk berdiri. Sorot matanya tajam, cengkramannya begitu kuat. "Lo pikir lo siapa, hah? Lo anggap kita siapa, Raka?" Suara Bian meninggi tepat di hadapan Raka.

ALGARENDRAS [SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang