JANGAN LUPA UNTUK FOLLOW DAN VOTE SEBELUM MEMBACA
Bercerita tentang keluarga Reigan Algarendra dan Zeyna dengan kelima anak mereka yang selalu membuat keduanya mengelus dada.
Butuh beribu-ribu kesabaran bagi mereka mendidik anak yang sudah dewasa n...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jangan lupa vote sebelum membaca❤️✨
~~~
[Alby's POV]
Sedari kecil aku sudah memikirkan satu hal, di mana ibuku berada?
Sebagian anak kecil tidak akan bisa mengingat kenangan masa kanak-kanak, dan sebagian lain bisa mengingatnya, bahkan secara detail. Sementara aku berada di bagian pertama.
Aku tidak mengingat pernah mengalami hal-hal indah, semuanya buruk dalam ingatanku. Yang bisa kuingat hanyalah teriakan ayahku saat aku melakukan kesalahan kecil, itu sejak aku berumur 5 tahun.
Ayahku suka memukulku, meskipun aku tidak melakukan apapun. Seolah baginya, aku hanya sebuah alat untuk pelampiasan amarahnya.
Pernah suatu saat, ayahku menyuruhku membelikan kopi di sebuah warung. Ketika aku melewati sebuah taman bermain, arah pandangku tertuju pada seorang pria besar dan anak-anak yang seumuran denganku. Tak jauh dari sana, seorang wanita tertawa melihat interaksi itu.
Saat itu aku tidak tahu, apa arti hubungan seorang ayah dan anaknya? Apa itu keluarga? Apakah aku bisa menjadi seperti mereka.
Ayahku hanya tukang pemarah, bahkan saat aku pulang membawa kopi kemasan yang diminta, ia masih memarahiku. Bilang aku terlalu lama, menuduhku masih keluyuran. Aku tidak bisa menyangkal. Memang tidak keluyuran, aku hanya melihat ayah dan anak bermain di taman.
Aku ingin seperti mereka.
Aku tidak mengerti caranya bahagia, yang kulakukan hanyalah menangis dan mengaduh saat ayah memukulkan cambuknya ke punggungku.
Aku juga ingin merasakan tawa, bukan tangis kesakitan. Aku ingin rambutku dielus sebelum tidur, bukan cambukan di punggung. Aku ingin sarapanku dihidangkan, bukan membiarkan tangan kecilku melepuh kala membuat kopi pagi untuk ayah.
Di saat itu juga, aku berpikir, di mana ibuku berada? Aku yakin seluruh anak kecil di dunia ini memiliki ayah dan seorang ibu.
Lalu, ibuku di mana? Siapa dia? Mengapa dia tidak pernah menemuiku? Apakah dia sudah mati?
Beranjak 7 tahun, aku mulai berani menanyakan tentang ibu pada ayah. Namun, bukan jawaban yang kudapatkan. Ayahku marah, dia memukulku habis-habisan, dan berakhir menyuruhku tidur di luar.
Mengapa?
Aku hanya ingin tahu keberadaan ibu. Aku hanya ingin tahu, setidaknya, melihat wajahnya. Aku ingin tahu, apakah ibu secantik artis yang kulihat di televisi yang kutonton diam-diam saat ayah tidak ada?
Aku berani melakukan ini karena aku bosan, awalnya, tapi semakin lama aku menonton televisi rasanya menyenangkan. Aku mengetahui banyak hal dari sana.
Suatu saat aku melihat anak kecil berpakaian merah putih di depan rumah, aku ingin seperti mereka. Aku tahu mereka akan ke mana, dan aku juga ingin mengikuti mereka.