BAB 15 || Rutinitas

304 46 7
                                        

happy reading semuach~

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


happy reading semuach~

~~~

Ini hari minggu dan Saka sudah heboh mengajak kakak-kakaknya untuk ikut lari pagi, satu orang yang pertama kali ia ajak adalah Raka, karena lelaki itu gampang diajak berolahraga. Kini ia sudah merecoki kamar Daniel, meminta kakak sulungnya itu bangun.

"AYO MAS! BIAR SEHAT! PERATURANNYA MASIH BERLAKU LOH YA!? GUE ADA HUKUMAN KHUSUS BUAT LO!"

Daniel mengusak rambutnya frustasi kala Saka loncat-loncat di atas kasurnya. Ia memilih mengalah, bangun dan menatap Saka tajam. Yang ditatap hanya menyengir. "Yuk."

"Cuci muka dulu," ucap Daniel sebelum turun dari ranjangnya.

"Oke, awas lo tidur lagi," balasnya lalu keluar dari kamar Daniel.

"Tumben banget lo ngajak duluan," ujar Raka saat adiknya sampai di lantai bawah.

"Sekali-kali kan— eh, Bang Bian tumben udah bangun?" Tanyanya kaget saat Bian menghampiri mereka di ruang keluarga.

"Suara lo grasak-grusuk gimana gue gak bangun?" Ujar Bian sedikit kesal. Namun, Saka salah fokus dan malah melihat penampilan Bian. "Mau kemana lo?"

"Lari lah, lo pikir gue mau ngeronda?!"

"Gak usah Bang, lo diem di rumah aja," jawaban Raka membuat Bian mendelik tak suka. Mereka pikir ia selemah itu untuk berlari 100M? Lagipula, ia pasti akan berhenti di pertengahan jalan seperti biasa, kan?

"Enak aja lo nyuruh-nyuruh, gak, gue tetep mau ikut."

"Lo jangan banyak gerak dulu," sambung Gerry membuatnya mendengus

"Gue cuma mau ikut kalian kak, gue gak bakal lari deh, tapi gue tetep ikut." Gerry menghela napas pasrah, suka-suka Bian.

Kelimanya memilih melakukan pemanasan terlebih dahulu, berkali-kali Daniel mengaduh kesakitan saat melakukannya yang langsung disembur Saka. Setelah beberapa menit berlalu, mereka mulai berlari mengitari komplek. Raka yang memimpin mereka, disusul Daniel, Bian, Gerry dan Saka paling belakang. Berjaga-jaga takut ada yang kabur, katanya. Rutinitas yang kembali ini tentu saja akan mendapat gosipan dari ibu-ibu komplek yang berkumpul sambil berbelanja sayuran.

"Wahh, itu anaknya Pak Reigan ya, udah lama gak keliatan makin cakep aja ya."

"Iya ya, saya malah paling sering papasan sama sepupunya."

"Siapa, jeng?"

"Siapa ya namanya...? Gakk tau, jeng, saya lupa."

Lari pagi hari ini sedikit berbeda, Bian tidak terlalu menimpali orang-orang yang membicarakannya, ia lebih memilih diam dan hanya mendengarkan ucapan-ucapan yang mereka lontarkan.

"Kasian ya, Mbak Zeyna belum dikasih momongan."

"Tapi mereka beruntung, jeng, masih punya warisan."

"Lagian mereka udah dewasa."

ALGARENDRAS [SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang