BAB 26 || The Connection

365 49 25
                                        

Asix aku pake judul engress🕺

Yuk yukJangan lupa vote sebelum dive in✨

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Yuk yuk
Jangan lupa vote sebelum dive in✨

~~~

Hari ini, Gerry datang lebih awal dari biasanya. Saka belum pulang dari rumah sakit, dan rumah dalam keadaan kosong. Ia berniat menaruh beberapa dokumen asuransi yang sempat ia urus, tapi langkahnya terhenti di depan kamar Saka yang tidak tertutup rapat.

Awalnya, ia hanya ingin mengambil sesuatu yang Saka pinjam beberapa hari yang lalu. Dia juga sudah bilang ke Saka untuk mengambilnya, setelah mengambilnya, ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Memastikan ruangan bersih. Tapi pandangannya terpaku pada lemari kecil di sudut ruangan. Pintu bagian bawahnya sedikit terbuka. Mata Gerry memicing, di dalam lemari kecil yang terbuka itu, ada sebuah kotak putih dengan simbol farmasi kecil di salah satu sudutnya.

Gerry tidak bermaksud mengusik, tapi rasa khawatir melawannya.

Ia membukanya.

Di dalam kotak itu, tersimpan beberapa vial kecil dengan cairan bening. Hanya terdapat kode angka samar dan catatan tulisan tangan yang bahkan sulit dibaca. Ia mengenali salah satu komponen dari singkatan kimianya, tapi kenapa ini tidak pernah disebut Saka?

Gerry menatap lama vial itu, keningnya berkerut. Detak jantungnya memburu, pikirannya seolah terbayang entah kemana.

Dia tahu dia harus tenang. Tapi instingnya sebagai orang yang paham kimia tidak bisa diam. Obat ini ... harus dipastikan dulu.

.
.
.
.
.

Terhitung sudah lima hari sejak Saka sadar, ia belum diperbolehkan pulang. Untung saja libur semester masih tersisa lima belas hari, Saka tidak perlu repot-repot memikirkan ketertinggalan.

Gerry yang kini menjaganya duduk di sofa, pandangannya mengedar. Ia merasa aneh dengan keadaan ruangan ini. Dari awal saja ia merasa aneh, ruangan ini terbilang cukup lengkap untuk sebuah ruangan naratama.

Tetapi, siapa yang memperdulikan ruangan? Tidak ada. Gerry gabut saja memikirkan ruangan.

Rakha dan Vera sudah berpamitan kemarin, tiga hari mereka menginap, waktunya kembali pada dunia nyata yang penuh dengan pekerjaan. Tiga saudara itu juga ikut berpamitan, Gevan sempat menangis dramatis untuk meninggalkan Saka.

"Gue gak mau! Gue gak mau ninggalin adik gue sendirian!"

Devan yang melihat adiknya merengek seperti itu mendengus jengah. "Saka juga punya saudara, bego. Lo pikir mereka gak bisa jagain Saka?"

Dengan cepat Gevan menggeleng. "Emang nggak bisa. Buktinya Saka sampai dirawat begini, gak mau tahu pokoknya gue gak mau pulang!"

Dramatis sekali. Ia sudah memeluk Saka erat-erat, tak ingin melepaskan, sementara Saka berulang kali hanya menghela napas pasrah. Namun, Vera tidak akan tinggal diam, melihat itu membuat Vera juga jengah.

ALGARENDRAS [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang