JANGAN LUPA UNTUK FOLLOW DAN VOTE SEBELUM MEMBACA
Bercerita tentang keluarga Reigan Algarendra dan Zeyna dengan kelima anak mereka yang selalu membuat keduanya mengelus dada.
Butuh beribu-ribu kesabaran bagi mereka mendidik anak yang sudah dewasa n...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hepi ridinggg~
~~~
Hari ini jadwal Bian melakukan terapi dengan Saka, berkali-kali ia disemangati saat melakukannya. Ini yang ia sukai jika pergi dengan Saka, selalu mendapat letupan energi positif darinya. Setelah keluar dari ruangan pun Saka menyambutnya heboh.
"Ke toko dulu ya, gue buat kue bolu kemarin, harus dicobain."
"Gak yakin gue sama rasanya."
"Awas aja ketagihan," dengan percaya diri ia berjalan bak seorang bodyguard yang menjaga artisnya. Bian hanya geleng-geleng, tak menyangka sifat tengilnya menurun ke adik bungsunya.
Keduanya masuk ke dalam mobil, melaju membelah jalanan kota. Setelah dari toko mereka langsung pulang, itu lebih baik. Sesaat setelah sampai di rumah, keduanya melihat sebuah motor hitam terparkir di halaman, sepertinya mereka tahu siapa pemilik motor ini.
"ASSALAMU'ALAIKUM BRADER!!!"
"Waalaikumussalam."
Terdapat dua lelaki yang sedang duduk di ruang tamu, kedua kakaknya dan orang pemilik motor. Orang yang paling membenci Bian karena terlalu sok akrab dari pandangan pribadinya, saat ini berada di kediaman Algarendra.
Athar. Cukup mmengejutkan memang, orang yang dulu sangat membeni Bian sampai ubun-ubun, kini sering datang menjenguk Bian. Saat pertama kali ia datang ke rumah ini, ia dengan malu-malu meminta maaf pada Bian atas dirinya dulu. Saat itu hanya ada Raka dan Saka yang berada di rumah, dan entah karena Bian terlalu baik hati atau memang tak acuh, laki-laki itu dengan cepat memaafkan Athar. Saka juga sama, ia hanya kesal dengan Athar, bukan membenci. Jadi, keduanya saling memaafkan.
Sejak saat itu, Athar sering ke rumah Bian hanya sekadar main, biasanya yang akan menemaninya adalah anak kembar dan teman-temannya. Namun kali ini, kebetulan Gerry sedang berada di rumah. Canggung. Itu yang ia rasakan, harusnya ia datang tak terlalu pagi, padahal ia tahu jadwal terapi Bian, tetapi ia tidak tahu Bian akan pulang agak telat.
"Eh, ada Kak Athar, kebetulan gue bawa kue bolu. Dimakan ya, gue buatnya penuh cinta loh," celetuk Saka.