JANGAN LUPA UNTUK FOLLOW DAN VOTE SEBELUM MEMBACA
Bercerita tentang keluarga Reigan Algarendra dan Zeyna dengan kelima anak mereka yang selalu membuat keduanya mengelus dada.
Butuh beribu-ribu kesabaran bagi mereka mendidik anak yang sudah dewasa n...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hana dul set Annyeong haseoo~ Cerita yg suka ghosting imnida~ BTW kalian ga menerka-nerka gitu di dalem hati tentang cerita ini? Atau minimal menerka-nerka di komen dehT_T
~~~
Bian merebahkan tubuhnya di atas kasur, pandangannya mengarah ke langit-langit kamar. Ia masih berada di sana, di hotel yang Saka pesan tiga hari yang lalu, dengan pikiran yang tidak bisa dikesampingkan.
Pikirannya lelah, fisiknya ikut melemah, rasanya semua yang terjadi padanya adalah hukuman akibat perbuatannya. Matanya memang memandang kosong, namun isi kepalanya penuh, sangat berbanding terbalik.
Ia merindukan ayah ibunya, tidak bisa dipungkiri, ia sering bertemu dengan mereka dalam mimpi. Ia merasa ayah ibunya seolah-olah sengaja menemuinya, mencemoohnya, mengejeknya karena sering memikirkan mereka berdua. Salahkan Bian, ia tidak bisa tidak memikirkan mereka berdua, seolah-olah pikirannya terobsesi terhadap mereka. Ia terobsesi akan sesuatu, menghukum orang yang membuat keluarganya seperti sekarang, termasuk menghukum dirinya.
Perhatiannya beralih pada benda pipih yang berbunyi, tangannya meraba di atas kasur dengan malas, melihat pesan. Matanya membelalak, segera terbangun dari posisi berbaring, kembali melihat pesan yang dia dapat.
Yth. Bian Putra Algarendra, bianputra@gimeil.com
Dengan hormat,
Kami mengucapkan terima kasih atas ketertarikan dan partisipasi Anda dalam proses seleksi program magang di Adhikara & Co. Setelah melalui tahapan seleksi, kami dengan senang hati menginformasikan bahwa Anda telah diterima sebagai karyawan magang di firma kami.
Dari berbagai paragraf yang ia terima, kalimat itulah yang paling ia sorot. Ia berkali-kali membaca kalimat itu, takut kalau ini hanya halusinasi akibat terlalu lama berharap. Setelah dirasa lelah membaca, barulah ia bereaksi, "ANJIR?! INI BENERAN?!"
Kalimat pertama yang ia lontarkan.
Tanpa menunggu apapun, tangannya yang sedikit bergetar membuka ikon kontak. Matanya memburam karena air mata, dadanya terasa sesak, antara ingin tertawa atau menangis. Setelah berbulan-bulan mengirim lamaran, menunggu jawaban yang tak kunjung datang, dan berkali-kali ditolak, akhirnya—akhirnya—ada satu perusahaan yang menerimanya. Dia mengira pencariannya tak akan pernah berakhir, bahwa dia mungkin memang tak cukup baik untuk keberuntungan. Tapi nyatanya, keajaiban itu benar-benar ada.
Ibu jarinya menekan nama seseorang di aplikasi kontak dengan terburu-buru, sebelum akhirnya ia mematikannya dengan segera. Dadanya bertambah sesak, ia tidak bisa menghindari hasratnya untuk bercerita, tetapi keadaan memaksa dia untuk berhenti mengganggu.