JANGAN LUPA UNTUK FOLLOW DAN VOTE SEBELUM MEMBACA
Bercerita tentang keluarga Reigan Algarendra dan Zeyna dengan kelima anak mereka yang selalu membuat keduanya mengelus dada.
Butuh beribu-ribu kesabaran bagi mereka mendidik anak yang sudah dewasa n...
⚠️ Ingin mengingatkan kembali bahwa cerita ini adalah fiksi semata Aduh, aku deg-deg an banget up bab ini👀🤲
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Seperti biasaa vote before you dive in✨ love you all❤️❤️
~~~
Tiga hari sebelum ledakan.
Seorang laki-laki kini duduk memelas di hadapan orang yang masih menggunakan pakaian bertugas. Sedari tadi mereka berdebat, mengeluh, tiada hentinya.
"Kak, gue mohon. Ini demi keselamatan mereka," ujar satunya dengan nada memelas.
Laki-laki di hadapannya menghela napas. "Tapi buktinya belum cukup kuat, Jarrel. Gue gak bisa mengambil tindakan cuma karena asumsi seseorang."
Jarrel, di hadapan laki-laki itu, mendengus pelan. Kemudian, satu ide terlintas di kepalanya. "Gini deh, kak. Lo terima aja permintaan gue, bukan sebagai polisi atau penyidik, tapi sebagai keluarga mereka. Gue bakal pasang CCTV deket rumah mereka diem-diem, kalau ada sesuatu yang mencurigakan gue bakal langsung telepon lo."
Laki-laki di hadapannya mendelik. "Mana bisa gitu?! Itu pelanggaran, bocah. Lo melanggar privasi mereka."
Jarrel sekali lagi mendengus. "Kak, lo keluarganya bukan, sih? Gue minta lo lakuin ini buat keselamatan mereka."
Sedari tadi, Jarrel sudah memelas pada Revan untuk menerima gelang sinyal yang Jarrel dapatkan. Hal itu Jarrel gunakan untuk informasi atau kejadian yang tak diinginkan, tapi Revan menolak alasan pelanggaran hukum.
"Tapi kalau ada sesuatu, lo bisa diproses ke jalur hukum, bocaahh. Paham, gak sih? Lo bisa ditangkap gara-gara pasang CCTV sembarangan."
"Jadi, gue harus bilang ke Saka dulu, gitu?"
Laki-laki itu mengangguk. "Setidaknya ke Saka."
Jarrel menghela napas. "Oke, tapi kalau Saka iyain lo harus terima permintaan gue. Titik. Gue udah kasih Saka tombol sinyalnya, setelah itu lo harus terima gelang sinyal juga. Gue kasih lo akses CCTV juga, gak mau tahu."
. . . . .
Berita ledakan itu sampai ke telinga teman-teman mereka, bahkan melalui televisi. Nama Daniel kembali disebut oleh wartawan, bilang ini musibah saat perusahaaannya kembali bangun. Para wartawan sibuk menyuting tempat kejadian pasca ledakan. Satu dua menerobos ingin bertanya pada korban yang masih sadar, namun dengan sigap polisi menahan.
Baik polisi maupun petugas pemadam kebakaran kocar-kacir meredam kobaran api yang disebabkan oleh bom itu. Dua polisi masuk dan kembali dengan dua laki-laki yang tak sadarkan diri. Mereka dilarikan ke rumah sakit, sementara yang lain dieksekusi ke tempat yang lebih aman.
Untuk sehari, mereka terpaksa mengungsi ke rumah tetangga. Setelah dalam satu hari, merasa tidak betah, ketiga bersaudara itu memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Di mana Daniel dan Saka berada. Daniel sudah sadar, seakan merasa deja vu, ia tak berniat untuk meninggalkan Saka barang sedikitpun.