8. Dampak untuk Aksa

204 32 2
                                    

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

.
.
.

🦋🦋🦋

8. Dampak untuk Aksa

Tentang kejadian dua hari lalu, kalau ditanya apakah Aurel puas atau tidak, jawabannya ya, dia cukup puas. Apalagi hari-hari setelahnya kejadian yang menimpa Aksa masih menjadi trending topik di sekolah.

Banyak yang bertanya, siapa wanita gila itu? Kenapa ia memeluk Aksa? Kenapa ia memanggil Aksa dengan sebutan 'Anakku'? Dan rentetan pertanyaan lainnya yang menimbulkan spekulasi-spekulasi aneh tentang Aksa.

Beberapa orang bahkan membicarakan latar belakang pemuda itu yang tidak pernah menampakkan sosok Ibu kandungnya. Selama ini Aksa selalu nampak hanya bersama Papanya saja, jadi tidak heran jika orang-orang berpikir bahwa wanita gila itu memanglah Mamanya Aksa.

Di antara orang-orang yang membicarakan Aksa, nama ketiga temannya ikut terseret. Langit, khususnya. Orang yang kelihatan paling bingung dengan apa yang telah terjadi. Sudah diberitahu dari awal jika pertemanan yang terjalin di antara mereka memang tidak seerat itu, hingga tidak tahu menahu tentang background masing-masing. Tapi Langit juga tidak pernah menyangka bahwa Aksa memiliki fakta seperti itu.

"Menurut lo, kita masih harus temenan?"

"Dasar nggak setia kawan!" cecar Bagas, membuat Langit dan Jonathan menoleh kepadanya bersamaan.

"Gas—"

"Memang kenapa kalau nyokapnya gila? Toh, penyakit gilanya nggak nurun ke Aksa."

Langit berdecak mendengar itu. Di antara ketiganya, Langit itu yang paling harus sempurna dari segi apapun, terlebih Mamanya tipe orang tua yang protektif. Lingkungan pertemanan Langit harus bersih dari orang-orang yang bisa saja merugikan kehidupannya, itu sebabnya Langit menjadi tipikal anak yang agak tinggi hati.

"Gue nggak bisa," ucap Langit, cowok itu beranjak dari tempat duduknya.

"Kenapa nggak bisa?" tanya Bagas.

Langit menghela nafas kasar. "Gue nggak mau punya teman yang nyokapnya gila."

"Lang—"

"Terserah lo aja, Gas. Kalau lo masih mau temanan sama dia, jangan temenan sama gue. Lo juga, Jo. Kalau mau sama Aksa, jangan ngintilin gue lagi." Setelah mengatakan itu, Langit memilih untuk keluar dari kelasnya meninggalkan Jonathan dan Bagas yang terdiam di posisinya masing-masing.

Jonathan kini membalas tatapan Bagas yang beralih padanya, seolah menunggu cowok itu mengucapkan sesuatu. "Ck!" decak Jonathan. "Kenapa nyokapnya Aksa harus gila, sih?" kesalnya. "Kenapa juga gue harus milih Aksa atau Langit?" tanyanya masih dengan nada kesal.

Jonathan tidak menentukan pilihan, cowok itu memilih kembali ke tempat duduknya lalu merebahkan kepalanya di atas meja. Memejamkan matanya, dan tertidur untuk menenangkan dirinya sesaat.

AKSA'S | HARUTOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang