Minhyung dan Taeyong mengundang kembali beberapa Petinggi untuk membicarakan kerjasama dan juga tugas-tugas yang mungkin akan diperbarui oleh Minhyung. Minhyung ingin mengembalikan apa yang telah tertulis dalam kitab keluarga Jeong sebelum pada akhirnya Dinasti memiliki banyak peraturan yang diubah oleh Lee Hansol kala itu.
"Aku tidak ingin mengambil upeti dari lapisan dinding ketiga. Kehidupan disana sungguh tidak bisa kusebut dengan layak. Maraknya pencurian dan tindak kriminal lain merajarela dikarenakan tingginya tingkat kemiskinan, salah satunya dengan pemberian upeti. Kuharap dengan ini, setidaknya perekonomian di lapisan dinding ketiga sedikit dapat membaik. Dan aku ingin menyuplai beberapa bantuan pangan di beberapa titik."
Petinggi Huang, yang menggantikan posisi Petinggi Jung setelah hari pembantaian dilakukan dan kemudian diangkat sebagai Menteri Perpajakan hanya dapat mengangguk. Dirinya tidak dibunuh langsung di tempat saja sudah syukur sekali.
"Na—namun jika begitu... pemasukkan Istana semakin berkurang dan.."
"Istana tidak memerlukan pemasukkan dari daerah miskin. Kau tahu pepatah yang mengatakan jika pemerintahan tidak dijalankan dengan baik maka mereka yang kaya akan semakin kaya, dan sebaliknya yang miskin akan semakin menderita. Kau pikir keserakahan keluarga Lee akan kuteruskan? Jangan harap."
"Ma—maafkan hamba. Hamba akan segera melakukan apa yang Anda minta."
"Bagus. Dan Tuan Huang.. aku tetap tidak akan melupakan apa yang sudah terjadi. Jadi, sekali saja kau berniat untuk membelot.. tidak akan ada kesempatan lainnya lagi. Ingat, putrimu berada dalam Istana ini."
Taeyong yang mendampingi Minhyung mengakui kemampuan Minhyung dalam memimpin, seluruh pengetahuan dari kitab keluarga Jeong sungguh terserap sempurna dan Minhyung sangat pandai bernegosiasi. Benar-benar sosok yang lengkap sekali sebagai seorang pemimpin ditambah dengan piawai dalam berpedang. Sosok seorang Raja. Taeyong mendengus dan menampik pikirannya yang sempat memikirkan hal lain. Dirinya hanya harus mengurus masalah mengenai Pangeran Donghyuck secepatnya. Semua harus tetap berjalan sesuai rencananya.
Di sisi lain Istana, Jeno sedang berlatih. Akhir-akhir ini pikirannya sedikit bercabang, rasanya semua berjalan begitu mulus tanpa halangan dan tantangan yang berarti, namun kehadiran Pangeran Donghyuck sungguh menjadi celah tersendiri. Dalam ayunan pedangnya yang kian lama semakin cepat hingga terdengar bunyi 'wuushshhhh' yang begitu tajam dan kencang membelah udara, Jeno memikirkan masa depan Dinasti ini kelak. Sudikah ia melayani Putra Mahkota yang akan dilahirkan dari rahim Donghyuck? Menjaga sang Putra Mahkota sepenuh hati dan tunduk padanya? Menurut Jeno, hal itu adalah kegagalan besar dalam hidupnya. Dirinya tidak berlatih selama belasan tahun untuk kemudian melayani keturunan dari keluarga Lee.
Wushhhhh!
Jeno mengatur nafasnya, tersengal dan dadanya naik turun. Entah sudah berapa lama Jeno mengayunkan pedangnya. Dirinya sungguh membutuhkan pengalihan. Jeno menyentak pedangnya sendiri dan duduk seraya beristirahat. Keringat membasahi seluruh tubuhnya namun Jeno merasa lebih baik setelah melakukan kegiatan fisik. Sejak kecil, ketika pikirannya dipenuhi oleh bayang-bayang pembantaian keluarganya, Jeno akan melampiaskannya dengan berlatih hingga batas ketahanan tubuhnya.
"Ayunan pedangmu memang sangat terarah, namun kupikir kau melakukannya karena ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu. Tebakanku benar?"
Jeno mendelik, menatap Pangeran Mingyu yang sejak kapan sudah berada di dekatnya, bersandar di sebuah pilar dengan sebelah tangan memegangi sisi perut.
"Mengapa kau bisa berada di luar kamar? Kemana penjaga yang seharusnya bertugas?"
Jeno beranjak dan mengambil pedangnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
KINGDOM [END]
Historical FictionPangeran kecil Lee Donghyuck, yang dilahirkan oleh Selir pertama sang Raja Dinasti Joseon begitu menyukai putra dari Petinggi Jung, Jung Minhyung. "Kuberikan giok ini untukmu, Minhyung.. di kunjungan berikutnya, kau yang harus memberiku hadiah." Se...
![KINGDOM [END]](https://img.wattpad.com/cover/371400115-64-k874071.jpg)