JANGAN LUPA UNTUK FOLLOW DAN VOTE SEBELUM MEMBACA
Bercerita tentang keluarga Reigan Algarendra dan Zeyna dengan kelima anak mereka yang selalu membuat keduanya mengelus dada.
Butuh beribu-ribu kesabaran bagi mereka mendidik anak yang sudah dewasa n...
Thank you banyak-banyak buat kalian yang udah bersabar
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy reading~
~~~
Hari berganti demi hari, bulan terus berganti ke bulan berikutnya, semuanya berangsur cukup baik. Hubungan mereka bisa dikatakan kembali erat, meskipun ada yang sedikit berbeda dari diri mereka sendiri.
Daniel yang semakin sibuk tapi omelannya terus mengudara, Gerry yang mendadak ikut cerewet tapi juga semakin sibuk, Bian yang lebih diam dari biasanya, Raka yang juga ikut cerewet, dan Saka yang lebih sering usil terhadap kakak-kakaknya. Juga, paman dan keluarganya yang sering menginap di rumah mereka dua minggu sekali di akhir pekan. Sebenarnya agak aneh, keluarga Rakha yang biasanya berkunjung tiga bulan sekali, itupun hanya berkunjung bukan menginap, tiba-tiba sering menjenguk mereka setidaknya satu kali dalam sebulan.
Seperti saat ini, rumah yang seharusnya sepi tiba-tiba buyar akibat suara tawa Saka dan teriakan Gevan. Keduanya tengah bermain PS di sudut ruangan, tapi suaranya terdengar sampai seluruh penjuru rumah.
"Woy! Lo berdua diem atau gue jahit tuh mulut?!" Bentak Bian yang sedang asyik menonton televisi di ruang keluarga.
Berbicara tentang Bian, proses terapinya berjalan dengan baik. Kini ia lebih sering memakai tongkat, jika sudah merasa tak kuat, barulah ia memakai kursi roda. Hal itu memicu semangat Bian sendiri agar lekas sembuh, karena yang ia lakukan selama ini hanyalah berdiam diri di rumah. Dirinya lelah seharian ini entah karena apa, padahal yang ia lakukan hanyalah makan makan dan makan.
"Bian, ayo makan."
Astaga.
Ini sudah pukul satu siang dan Bian sudah makan tiga kali, sebenarnya ia tidak terlalu lapar, ia juga sudah bilang pada tantenya itu tapi tetap saja.
Tok tok tok.
Suara ketukan pintu dan terbuka terdengar mengalihkan atensi Vera pada sosok laki-laki yang masuk beserta seorang perempuan yang tersenyum lebar, ia mengerutkan kening yang dibalas senyum oleh ponakan tertuanya.
"Rana?" Tanyanya memastikan.
Perempuan itu mengangguk, sama seperti Zeyna, yang ia lakukan hanya memandangnya dari atas sampai bawah kembali lagi ke atas. Rana memakai dres selutut berawarna pastel yang memperlihatkan lekuk tubuhnya.
Bian keluar dari ruangan, ia sedikit terkejut melihat kekasih kakaknya yang kini menatapnya, ah tidak, lebih tepatnya ke arah kakinya yang menggunakan tongkat. Bian menatapnya tak suka, sudah dari awal sejak kakaknya membawa perempuan itu, ia merasa bahwa ia adalah perempuan yang tak baik. Bian melengos pergi, menghiraukan tiga orang dengan tiga tatapan yang berbeda.
"Duduk dulu Na, atau mau makan sekalian? Daniel juga pasti belum makan, kan?" Alih Vera.
"Gak usah, tan. Kita udah makan tadi, Daniel permisi ke kamar dulu," putus Daniel. Ia segera menarik Rana untuk pergi, belum sampai sepuluh langkah ia terhenti karena Saka yang hampir menabraknya.