xii. no longer burdened

722 135 9
                                        

Seminggu berlalu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Seminggu berlalu. Tiada jumpa antara Jaime dengan Annelyn sejak hari itu.

Sebagaimana yang pernah terjadi sebelumnya, setelah pergi meninggalkan Jaime begitu saja di pusat kota; Annelyn sama sekali tak mendatangi laki-laki itu untuk memberi penjelasan atau setidaknya mengucap maaf.

Bahkan setelah beberapa malam, sepulang bekerja, Jaime—yang kerap mencoba mengabaikan perasaan cemasnya terhadap Annelyn, tetapi selalu gagal—menyempatkan singgah ke rumah perempuan itu untuk sekedar menyalakan lentera di dinding dekat tangga dan meletakkan kadang roti kadang rebusan kentang kadang buah-buahan di dekat pintu;

tetap tidak ada.

Annelyn tak memberi Jaime atensi apa-apa.

Padahal, Annelyn jelas tahu, satu-satunya manusia yang memberi secercah cahaya untuk rumahnya yang selalu gulita hanyalah Jaime. Dan, makanan-makanan yang membuatnya tetap hidup itu hanya datang dari Jaime.

Pun, Jaime tahu bahwa Annelyn telah pulang, telah ada di dalam rumah itu.

Sebab ada sepasang sepatu di anak tangga teratas yang terhubung dengan teras, dan makanan-makanan yang Jaime letakkan di teras selalu hilang di keesokan paginya ketika Jaime mengecek sebelum berangkat bekerja.

Terkadang, Jaime berkeinginan mengetuk pintu dan bertamu. Memastikan bahwa penghuni rumah itu memang baik-baik saja. Namun, keinginan ini hanya selalu berakhir terkubur dalam-dalam di benaknya.

Terkadang pula, Jaime memaki diri sendiri bodoh lantaran melakukan hal konyol, tak berguna, dan agaknya sia-sia. Memang, ia berharap apa?

Munafik jika Jaime mengatakan tidak ada.

Jelas ia berharap bahwa Annelyn mengerti perkara kecemasan, kepedulian, juga penantiannya—yang mana hingga kini tidak menuai nyata.

Annelyn masih menjadi sosok yang nihil eksistensinya dari klinik dan hari-hari seorang Jaime.

Maka, kini saatnya untuk Jaime kembali menjalankan logika dengan utuh. Kembali menjadi manusia yang prioritasnya adalah bekerja. Mengabdikan setiap detiknya untuk mengurus pasien-pasien yang datang ke klinik.

Tidak perlu ada acara mampir ke rumah Annelyn untuk menyalakan lentera atau meletakkan makanan apa pun. Ketika jam kerja telah habis, maka ia harus menutup kliniknya lalu segera pulang ke rumah.

Dan, ini telah berhasil dijalankan selama dua hari belakangan.

Hari pertama, ia berhasil langsung pulang, meski sempat gamang berdiri di persimpangan antara jalan menuju rumahnya dengan menuju rumah Annelyn.

Hari kedua, ia berhasil pulang tanpa bimbang. Ketika sampai di persimpangan, langkahnya mantap mengambil jalur kanan, jalur menuju rumah.

Hari ketiga, hujan. Dengan payung di tangan kanan dan lentera di tangan kiri, ia lagi-lagi mengambil jalur kanan di persimpangan. Namun, kemudian menoleh, memutar balik langkah, mengarungi jalur kiri hingga sampailah ia depan rumah di ujung jalan.

DESPEDIDACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang