Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jalan pulang diarungi sebelum hari menuai petang. Masih jalan lembab yang sama, yang berhias batu, pohon, rumput liar, dan semak.
Yang berbeda hanya perasaan di dada.
Jaime merasakannya. Bagaimana ia yang semula bersuka karena Annelyn mau ikut datang ke sungai itu berubah menjadi bahagia luar biasa setelah berhasil merasakan manis.
Dan, bagaimana bahagianya kemudian berganti resah ketika tautan tangan mereka terlepas, di tengah perjalanan.
Tentang siapa yang melepas, mungkin Jaime adalah sebenar-benarnya pelaku. Sebab sedari awal genggaman itu tercipta, Jaime sadar bahwa Annelyn tidak pernah berkontribusi di sana. Jaime sengaja melepas untuk memastikan.
Jaime yang melepas dan Annelyn yang membiarkannya terlepas. Begitu saja.
Pertanda jikalau memang Annelyn tak menginginkan mereka bergandengan tangan selayaknya sepasang manusia saling suka.
Tetapi, bukan. Harusnya Jaime tak menyalahkan Annelyn atas ini. Salahkan saja dirinya sendiri sebab terlambat memahami situasi.
Memang, Annelyn tak menolaknya tadi. Namun, balasan juga nihil Jaime dapatkan. Tidak satu kali pun Annelyn membalas ciuman yang Jaime datangkan. Maka, seharusnya laki-laki itu telah mengerti lalu berhenti.
Seharusnya, Jaime kemudian cukup dengan menggenggam erat gagang ember baja, tidak dengan jemari halusnya.
Berjalan masing-masing, Jaime di depan, Annelyn di belakang. Ketika menoleh ke belakang, Jaime melihat Annelyn cukup jauh tertinggal sehingga ia berhenti untuk menanti. Rasa-rasanya, ingin ia gandeng tangan itu lagi, tapi untuk kali ini tidak direalisasi.
Tungkak diayunkan Jaime kembali begitu memastikan Annelyn telah berada tepat di belakangnya lagi.
Jaime rasa sudah cukup pelan melangkah, tapi Annelyn masih kerap tertinggal juga. Hari semakin gelap, maka apa boleh buat. Jaime raih tangan perempuan itu, menuntun jemari di sana agar menggenggam ujung kaosnya seperti tadi ketika mereka datang.
Dan itu bertahan selama beberapa saat pertama. Berikutnya, yang terjadi adalah Annelyn lagi-lagi melepas.
Menoleh, memandang perempuan yang sempat berhenti melangkah di belakang sana, Jaime tanyakan, "Ada apa?"
Annelyn mengangkat kepala yang semula tertunduk, memandang Jaime, menggeleng, "Tidak ada," berbicara lirih.
Entah bagaimana Jaime menjelaskan perbedaan suasana yang kontras antara datang dan pulang. Yang jelas, kini, tidak ada Annelyn yang bersenandung kecil. Tidak ada Annelyn yang memandangnya tanpa segan.
Yang ada hanya Annelyn yang berkawan dengan keheningan. Enggan membagi pandang sehingga ketika berjalan melewati Jaime untuk mengambil posisi berjalan di depan, ia sama sekali tak menoleh.