Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Petang di luar sesekali dihiasi kilat dan gelegar. Jendela sebuah kamar yang dibiarkan tersibak tirainya menjadi objek tatap Annelyn sepanjang berbaring miring.
Perempuan itu kini berkawan dengan gelap dan senyap. Jaime meninggalkannya belum lama.
Dimulai dari ketika laki-laki itu bicara, "Aku mau kita juga berbagi cinta, seperti sepasang kekasih," dan Annelyn kemudian dengan segera menjauhkan tangannya dari sentuhan juga kecupan Jaime,
dengan lirih namun tegas, menjawab, "Aku tidak mau," menatap raut kaget Jaime, "Hubungan semacam itu, aku tidak bisa melakukannya. Kau tahu, aku mustahil selamanya berada di sini. Berpacaran akan menyulitkanku saat aku harus pergi."
Posisi Jaime berubah, dari berbaring menjadi duduk dengan memeluk kedua lutut. Yang statis adalah pandangan laki-laki itu, terus saja jatuh di atas sepasang mata dingin di sisinya hanya saja sekarang jarak di antara mereka terpaut lebih dekat.
"Lalu, kau ingin bagaimana?" lisan Jaime berbisik, "Katakan padaku, hubungan seperti apa yang harus kita jalani?"
Perapian meredup tersisa arang dan bara. Meski demikian, Jaime masih bisa dengan jelas melihat lautan kepercayaan diri di kedua bola mata Annelyn kala bersuara lirih, "Hubungan orang dewasa yang sederhana."
"Saling menyukai sewajarnya. Seperti yang dikatakan anak itu. Berbagi perhatian, ciuman, dan ..." sedikit memalingkan muka, bicara lebih lirih lagi seolah redup kepercayaan diri, "dan, ranjang."
Ia beranjak. "Kita bisa melakukannya malam ini. Ranjang di rumah ini cukup luas. Selimutnya juga cukup hangat."
Langkah yang nyaris mencapai pintu kamar itu terhenti berkat pertanyaan Jaime, "Apa maksudmu?"
Menoleh, Annelyn melihat Jaime di sana juga beranjak lalu bergegas menggapai mantel dan memakainya. "Laki-laki terhormat tidak akan melakukan hal itu."
"Laki-laki terhormat?"
Sepanjang itu pula, Jaime membombardir Annelyn dengan sederetan kata-katanya, "Hm. Di dunia ini yang wajib menjaga kehormatan bukan hanya wanita. Justru laki-laki yang paling bekewajiban atas itu. Tidur seranjang dengan wanita tanpa ada status yang jelas hanya dilakukan oleh laki-laki yang tidak terhormat."
Perjumpaan mereka ditutup dengan Annelyn yang tak bisa berkata-kata sesuai Jaime yang tegas berkata,
"Dan lagi, kata sederhana dan hubungan orang dewasa kurasa bukan kombinasi pas. Jika sedari awal kita tahu akan berjalan rumit, seharusnya kita tidak memulainya jika hanya untuk bermain-main."
Puluhan menit terlewati, jika Annelyn mengira bahwa Jaime telah sungguhan pulang, maka ia salah.
Laki-laki itu masih duduk di atas anak tangga yang menghubungkan beranda rumahnya dengan tanah rerumputan basah tertimpa derai hujan.
Melamun. Menyesali sedikit banyak perkataan yang beberapa saat lalu, ia lontarkan. Menunggu hujan yang redanya entah kapan.
Sungguh, ia bisa saja menerjang sekarang. Namun, entah mengapa dan untuk apa ia malah membuang-buang masa di sana ketika Annelyn—Ia yakini—sudah terlelap nyenyak di kamarnya.
Menyadari itu, Jaime melepas napas pehat ke udara sebelum melangkah pelan menuju gerbang, membuka dan terdiam ketika hendak kembali menutup.
Sebab di beranda sana, ia temukan Annelyn berdiri seraya menggenggam sebuah kunci. Mereka bersitatap untuk beberapa saat sampai Jaime menuntaskan kegiatan yang semula tertunda.
Gerbang sungguhan ditutupnya.
Tanpa menunggu Annelyn yang bergerak turun untuk mengunci, ia berjalan pergi.
Namun, tak seberapa jauh, langkah Jaime terhenti. Bukan sengaja, hanya laki-laki itu merasakan lengannya diraba, digenggam, ditahan.
Berbalik, Jaime cukup terheran meski sudah punya tebakan siapa orangnya. Lebih terheran lagi begitu melihat Annelyn berusaha keras dengan benda yang ada di tangannya. Kunci cadangan pintu rumah dan gerbang dilepas lalu diletakkan di atas tangan Jaime.
"Seperti aku yang datang ke tempatmu dan mempercayaimu, kamu boleh datang ke tempatku dan mempercayaiku. Aku tidak akan mengatakan pada dunia atau siapapun tentangmu. Kupastikan kamu akan aman. Aku tidak akan menggodamu. Aku tidak akan melukai kehormatanmu. Sungguh!"
Ketimbang fokus mendengarkan ucapan Annelyn, Jaime justru lebih fokus memandangi puncak kepala Annelyn yang basah dan telunjuk kiri Annelyn yang tergores. Melangkah lebih dekat, Jaime raih pergelangan tangan perempuan itu,
"Ayo, masuk!"
Tirai kamar yang semula tersibuk lantas ditutup dengan cepat. Mantel dilepas hingga di badan hanya tersisa kemeja yang lantas ia gulung kedua sisi lengannya.
Annelyn yang duduk tenang di tepi ranjang dihampiri. Dikeringkan rambut panjang yang setengah basah. Dibalutnya goresan luka di telunjuk kiri perempuan itu.
Selesai. Duduk saling berhadapan di tepi ranjang, Jaime pandangi jemari Annelyn yang setiap telunjuknya dibalut plaster. Kemarin yang kanan, sekarang yang kiri.
Dasar perempuan ceroboh ini!
Memandangi wajah dan kedua bola mata Annelyn di sana dalam puluhan sekon lamanya, Jaime katakan pelan, "Alih-alih memastikan keamananku, lebih baik kamu pastikan dulu bahwa kamu aman."
"Karena, jujur saja, bukan masalah kamu mempercayaiku, atau aku mempercayaimu."
"Tapi, seberapa kuat kita mempercayai diri kita sendiri."
"Masalahnya di sini dan alasan mengapa aku terlihat marah tadi adalah ... aku hanya tidak begitu percaya diri untuk memastikanmu tetap aman ketika kita berbagi ranjang."
[]
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.