xxx. flowers hotel

472 62 16
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Perasaannya tidak pernah membingungkan, meski kerap sukar diekspresikan. Keinginannya selalu pasti, meski jarang ada yang terlampaui.

Jaime pikir, ia telah mengenal dirinya sendiri lebih dari siapapun. Sejak kecerobohan yang mengakibatkan adiknya nyaris sekarat dan kemudian dia berakhir diasingkan ke desa ini, ia selalu berusaha memperhitungkan segalanya dengan teliti.

Namun, akhir-akhir ini, ia merasa seolah tak menentu. Keinginannya menjelma cabang-cabang. Ia seperti berdiri di antara banyak persimpangan dan ia kebingungan.

Setiap kali Annelyn menghilang, sesungguhnya, Jaime ingin perempuan itu pergi sejauh mungkin dan tidak pernah kembali. Namun, ironisnya, Jaime selalu berusaha mencari dan berharap menemukan.

Gelisah, takut, dan kecewa. Perasaan-perasaan konyol semacam itu merundung Jaime setiap kali Annelyn tidak terjangkau oleh pandangannya.

"Mengapa tidak datang ke klinikku?"

"Mengapa tidak duduk-duduk di klinikku? Mengapa tidak datang untuk mendapatkan makanan? Kamu yang menemanuiku belanja. Kamu tahu, aku membeli bahan makanan sangat banyak. Tapi, kini itu semua jadi layu, kering, dan sia-sia karena kamu tidak pernah datang. Dan aku sangat ingin tahu mengapa?"

Bahkan, marah.

Jaime marah karena Annelyn tidak mengunjungi kliniknya berminggu-minggu.

"Berpikir sejuta kalipun, aku benar-benar tidak mengerti. Ada apa dengan pusat kota? Mengapa kau selalu pergi begitu saja tiap kali aku mengajakmu ke sana? Mengapa kau sellau meninggalkanku di sana?"

Sejatinya, Jaime hanyalah penipu. Ia bertanya, padahal ia lah yang paling tahu segalanya.

Sejak awal, Jaime paham alasan mengapa Annelyn kerap menghilang tiap mereka pergi ke pusat kota. Jaime mengerti dasar dari ketakutan-ketakutan di wajah dan kedua mata Annelyn tanpa ia menyelam terlalu dalam.

"Waktu itu, kau berkata padaku bahwa kau mempercayaiku, mengapa sekarang kau malah melarikan diri?"

Jaime menipunya. Jadi, konyol saja, jika ia ingin mendapatkan kepercayaan darinya. Namun, begitulah yang terjadi pada laki-laki itu.

"Kau berubah pikiran? Setelah aku menciummu?"

Jaime tidak berharap apa-apa dari mencoba mencium bibir perempuan itu meski terhalang oleh ibu jarinya sendiri. Namun, ia ketakutan bilamana Annelyn sungguh-sungguh berubah pikiran.

Ia takut bilamana Annelyn tahu siapa ia sebenarnya, dan berubah pikiran.

"Jika memang iya, mengapa tidak segera melarikan diri setelahnya? Atau jika memang sesungguhnya sedari awal kau meragu, seharusnya kau berhenti mendatangiku setelah meninggalkanku di pusat kota, di waktu pertama aku mengajakmu ke sana. Seharusnya kau tidak mengatakan bahwa kau mempercayaiku, seharusnya kau jangan bicara omong kosong!"

DESPEDIDACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang