xxix. rootless desires

420 74 23
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Pada usia lima belas tahun, Jaime remaja bereksperimen di sebuah ruangan. Mengadopsi teori-teori yang kerap dijejalkan paksa ke dalam otaknya dari berbagai buku maupun kaset-kaset yang berisi tontonan hitam putih milik ayahnya.

Tercipta sebuah racun yang bisa membunuh tikus dalam waktu satu jam. Tadinya, ia menggembira dan berniat memberitahukan kabar ini pada ayahnya.

Namun, malam itu, Sam, adiknya yang berusia dua belas, menerobos kamar kecilnya dan entah bagaimana berakhir nyaris sekarat akibat meminum cairan di dalam akrilik yang ia letakkan di atas meja belajar.

Karena kecerobohan inilah, dan karena Sam adalah putra resmi ayahnya dengan istri yang sekarang—sedangkan Jaime hanya putra yang lahir dari hubungan gelap ayahnya dengan seorang wanita muda—kemudian ayahnya menjadi sangat marah dan mengasingkannya ke negeri sebarang.

Jaime dititipkan pada seorang Pendeta. Dirawat dan dididik untuk menjadi seorang pendeta pada mulanya seperti kehendak sang ayah yang mengira bahwa ada roh jahat di dalam diri Jaime dan mengira bahwa Jaime memang punya niat buruk terhadap sang adik.

Namun, dengan kemuliaan hati dan kehangatan sikapnya, Bapak Pendeta memberikan kebebasan pada Jaime untuk memilih masa depan seperti apa yang ingin ia jalani.

Jaime dipersilakan pergi ke Republik Cekoslowakia untuk menempuh pendidikan dokter sesuai kemauan laki-laki itu. Pulang setelah tujuh tahun mengembara, Jaime mendirikan klinik kecil di desanya.

Tujuannya sangat sederhana. Ia ingin mendedikasikan diri untuk membantu warga desa dan selanjutnya merawat sang ayah angkat.

Namun, malam itu, mereka berbincang di beranda klinik yang belum rampung dibangun.

"Membantu rakyat kecil memang mulia, tapi itu tidak akan membawamu ke surga kecuali kau mengimbanginya dengan berbakti pada orang tuamu."

"Orang tuaku sekarang adalah Anda, Tuan."

Garis-garis samar terlukis di wajah tua Si Pendeta kala tersenyum. "Kau sudah cukup berbakti padaku. Nanti jika aku mati, berbaktilah pada orang tua aslimu."

Setelahnya, terdengar sebuah fakta bahwa, "Sesungguhnya, seluruh fasilitas yang kau nikmati selama menjadi anakku adalah darinya. Termasuk itu adalah pendidikanmu. Ayahmu tidak benar-benar menelantarkanmu."

"Lalu, apakah satu-satunya cara untuk berbakti pada orang tua adalah dengan menuruti semua perintahnya? Bahkan jika itu membuatku menjadi tercela?"

Satu pertanyaan dari Jaime, dijawab dengan keheningan panjang.

"Rida Tuhan adalah Rida orang tua."

Dan, perkataan Bapak Pendeta terdengar meyakinkan sekaligus meragukan di saat bersamaan.

Tujuh malam sejak percakapan itu, Bapak Pendeta ditemukan tidak bernyawa di dalam gereja sehari setelah memimpin Misa. Orang bilang meninggalnya adalah sebuah kehormatan karena berada di tempat suci.

DESPEDIDACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang