Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sejumlah uang diterima Annelyn dari petugas tempat penukaran.
Benar apa kata Jaime. Itu lima kali lebih banyak dari jumlah yang Annelyn serahkan sebelumnya. Sampai-sampai saku baju Annelyn tidak cukup untuk mengantongi.
Maka, hal pertama yang mereka lakukan setelah berdiri cukup lama di depan bilik dalam sebuah bangunan agak sempit—menunggu uang selesai dihitung secara manual oleh petugas—adalah membeli tas selempang guna menyimpan semua uang.
Benda itu diterima Jaime dari penjual setelah terjadi tawar-menawar. Tadinya, hendak Annelyn bayar langsung saja, tapi Jaime mencegah. Meski awalnya keberatan, perempuan muda manis berkulit tan yang menyanggul tinggi rambutnya alias si penjual itu akhirnya luluh setelah Jaime tiga kali menawar.
"Karena Anda tampan, jadi boleh, lah," kata perempuan itu, tadi, sambil terkekeh.
Jaime hanya berterima kasih setelah menyerahkan uang sejumlah yang disebutkan.
Menghadap Annelyn, Jaime bentangkan dua sisi tali tas yang ia genggam, seperti hendak menyelempangkan benda itu pada Annelyn.
"Mendekatlah!"
Dan, benar. Jaime benar-benar melakukannya sedetik setelah Annelyn maju selangkah. Membungkuk untuk memasukkan uang-uang Annelyn ke dalam sana dan mengancingnya dengan aman, lalu berdiri kembali untuk menyesuaikan ukuran tali tas yang sedikit kepanjangan.
Selama itu, mata Annelyn tidak beralih dari seluruh gerak-gerik Jaime, bahkan Annelyn sampai tahu berapa kali kelopak mata Jaime mengedip.
"Sudah," memandang Annelyn, Jaime lepaskan sentuhan dari sepasang bahu perempuan yang kemudian menunduk—melihat tas yang semula mencapai paha kini hanya mencapai pinggang, ukuran yang pas dan nyaman.
Annelyn nyaris saja menyulam senyuman. Namun, urung sebab ia buru-buru menyusul Jaime yang sudah mengayunkan beberapa langkah lebih dulu di depan.
Menyusuri paving-paving pejalan kaki sambil memandangi deretan bangunan toko dan restoran, mereka bercengkrama.
"Lihat! Satu lembar mata uangmu senilai dengan tas cantik ini."
"Itu karena kamu menawarnya, dan karena ...." memelankan suara yang semula agak kencang, "... kamu tampan."
Jaime yang mendengar utuh kemudian menoleh, melihat Annelyn yang berjalan di sampingnya sambil memegangi tali tas dan memandang ke arah kalau tidak kanan, ya, depan. Jaime, di kirinya, hanya dapat satu lirikan sesaat.
Sedikit menaikkan sudut-sudut bibir, Jaime turut memandang depan lalu mengatakan, "Kau juga harus melakukan itu, lain kali."
"Tidak mau."
"Mengapa?"
"Itu pasti tidak akan berhasil. Aku tidak pandai melakukannya."