Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Di sisi kiri ranjang, Annelyn berbaring miring, nyaman kepalanya berada di atas bantal empuk dan hangat badannya tertutup selimut.
Kemudian, di sisi kanan ranjang, Jaime terlentang berbantal lengan yang keras. Selain kemeja dan celana bahan, tidak ada lagi yang menutupi badan gagah laki-laki itu.
Berdua, sama-sama masih terjaga. Mata Jaime terpaut pada langit-langit ruang, sementara mata Annelyn terpaut pada sebuah bantal yang menjadi pembatas di antara mereka. Annelyn sendiri yang berinisiasi tadi sesaat setelah Jaime mengaku tak percaya diri.
Namun, kini, Annelyn sangat ingin menyingkirkan benda itu ke tempat semula, kepada peran yang seharusnya. Di bawah kepala Jaime, menjadi bantal yang nyaman untuk Jaime.
Lalu, di tengah-tengah kelumit isi pikiran, Annelyn menyadari mata Jaime tidak lagi terpaut pada langit-langit ruang melainkan pada dirinya.
Mereka beradu pandang dalam keheningan secara terang-terangan. Sampai akhirnya, suara rendah dan lirih Jaime merasuki pendengaran, "Lupakan apa yang kukatakan sebelumnya. Aku akan menjaga kita agar tetap aman. Jadi, tidurlah dengan tenang, An."
Perlahan sepasang mata Annelyn terpejam. Ruangan menyisakan Jaime sebagai satu-satunya penghuni yang terjaga. Dan, memandangi wajah manusia yang tengah terlelap adalah satu-satunya kegiatan yang Jaime lakukan sepanjang berjam-jam.
Jaime ubah posisinya berbaring, seketika memunggungi Annelyn. Janjinya adalah membuat menjaga mereka berdua agar tetap aman.
Tetap aman di sini maksudnya adalah tidak bersentuhan. Dan, menurut Jaime, ini adalah cara terbaik ketika dorongan untuk setidaknya menyentuh helaian rambut Annelyn terbit dalam skala besar.
Akan tetapi, apa arti usaha Jaime itu ketika Annelyn entah dalam keadaan sadar atau tak sadar tiba-tiba merapat?
Entah kemana perginya bantal yang membatasi mereka berdua. Yang jelas, kini Jaime merasakan belakang punggungnya menghangat. Juga, jangan lupakan jemari yang menggenggam erat lengan kemeja atasnya lalu memeluk pinggangnya suka-suka.
"Ayah, aku takut."
"Jangan pergi! Aku benar-benar takut."
Annelyn seperti sedang dihantui mimpi buruk. Maka, Jaime biarkan perempuan itu terus memeluk.
Tak lama, kantuk mereguk kesadaran Jaime sepenuhnya. Terbangun ia pada pagi di mana biru langit masih bersemu petang, dan kekosongan di sisi ranjang.
Segera beranjak, Jaime temukan Annelyn duduk di dapur rumahnya seraya mengaduk sereal di dalam dua mangkuk.
"Kamu sudah bangun?" sedikit tersenyum, "Duduklah untuk sarapan!"
Kemudian alih-alih mengikuti permintaan, Jaime justru melesat cepat ke depan Annelyn dan meletakkan punggung tangan di dahi perempuan agak pucat itu. Menghembuskan napas lega ketika tak menemukan tanda-tanda Annelyn terserang demam.
Duduk dan menyantap sarapan dengan tenang. Jaime tak mempertanyakan apa pun. Baik apa yang semalam Annelyn mimpikan ataupun dari mana produk asing ini Annelyn dapatkan.
Jaime pikir, hubungan orang dewasa yang sederhana tidak menghalalkannya meraba informasi hingga ke sana. Akan menyenangkan jika mendengar Annelyn bercerita dengan sendirinya. Namun, perempuan itu terus diam, meski menangkap kernyit heran di dahi Jaime kala melihat kardus sereal di meja makan.
made in england
"Ah, tunggu sebentar."
Kala ini, Jaime nyaris pamit pulang. Annelyn menahan. Pergi ke kamarnya lalu bergegas kembali dengan membawa sesuatu di tangan.
Sebotol parfum, yang lantas disemprotkan pada pergelangan tangan Jaime.
Sudut bibir Jaime terangkat naik, "Sepertinya aku lupa, aku bahkan tidak bisa mencium aroma."
Berbeda dengan sudut bibir Annelyn yang justru turun. Seperti menyesal telah melupakan sesuatu yang penting tentang Jaime.
"Menurutmu bagaimana? Apa ini cocok untukku?"
"Kurasa begitu."
"Kau sengaja membelinya untukku?"
"Hm."
"Di mana, dan juga kapan?"
"Di pusat kota, belum lama ini."
Jaime mengulas senyum tipis, melangkah lebih dekat, mengulurkan tangan pada Annelyn, "Kalau begitu aku akan menerimanya, dengan senang hati,"
Mengantongi benda yang diserahkan dari Annelyn. "Terima kasih, aku menyukainya," melangkah semakin dekat, menggapai kedua sisi lengan atas Annelyn,
"Saat aku membawamu makan di restoran terenak di pusat kota nanti, bisakah kamu memberitahuku di gerai mana kamu membelinya? Agar ketika itu habis nanti, aku bisa datang ke sana untuk mengisinya ulang."
meletakkan usapan ringan di atas puncak kepala Annelyn, sedetik usai perempuan itu mengangguk.
"Dan, lagi, apakah ada kepastian, kapan kau akan kembali ke negerimu? Kurasa, aku butuh waktu untuk mempersiapkan diri"
Annelyn menunduk, menyingkirkan segala sentuhan Jaime, "Aku tidak tahu kapan pastinya. Gracia menyuruhku bertahan sedikit lagi," memastikan lilin-lilin yang menyala di tiap sudut ruang, "Tapi, aku berharap bisa kembali secepat mungkin."
Di ujung sana, seraya menyorot redup punggung Annelyn, Jaime bersuara, "Apakah tinggal selamanya di sini benar-benar mustahil bagimu?"
"Hm. Mustahil."
"Kalau begitu, kita benar-benar hanya main-main?"
"Hm. Oleh sebab itu, mari jangan terlalu berlebihan menyukai satu sama lain!"
Ucapan lirih Annelyn memicu keheningan panjang yang dipecah oleh derap langkah gegas Jaime dan suara lilin yang terjatuh dan pecah di atas lantai kayu.
Jaime baru saja mendatangi, meraih tangan, dan memutar balik posisi perempuan itu sehingga mereka kembali berdiri saling berhadapan juga bertatapan.
"Lalu apakah permainan akan tetap berlanjut apabila salah satu di antara kita mengaku kalah?"
[]
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
notes: kemungkinan 5 part lagi selesai , ya, man teman :')