Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Di dalam mengolesi bibir dengan lipstik, jemari Annelyn bergerak sepelan kilas balik seseorang memagutnya lembut semalam. Ada ulasan senyum samar yang ia terbitkan kemudian.
Sekali lagi mematut penampilan di depan cermin, ia beranjak dari kursi berkaki rendah, keluar dari kamarnya dan pergi menuju dapur rumah.
Teh sehangat ucapan, "Aku tahu restoran lezat di pusat kota. Mari pergi makan siang bersama ke sana, esok," dan semanis senyuman seseorang—yang semalam sempat berdiri di depan gerbang seusai pamit—disesapnya perlahan.
Kala itu, matahari bertengger tinggi dan menyorot silau lagi terik. Annelyn langkahkan kaki mengarungi jalanan bermedan tanah dan bebatuan. Sesekali bersenandung kecil sambil jemarinya menyapa tumbuh-tumbuhan di sekitar.
Ia dalam rangka menuju klinik milik Jaime.
Akan tetapi, langkahnya terjeda ketika ia menemukan tempat itu begitu ramai. Terasnya penuh oleh para manusia sehingga ia cukup meragu untuk menuntaskan sisa jarak yang ada, tetapi juga cukup penasaran akan kehebohan apa yang sebetulnya terjadi di dalam sana.
"Ya ampun! Darahnya berceceran!"
"Dia pasti sangat kesakitan."
Mendengar beberapa seruan, cemas perempuan itu naik sekian level lebih tinggi.
Siapa yang berdarah? Siapa yang kesakitan?
Mungkinkah Jaime sedang dalam kesulitan dan bahaya? Mungkinkah terjadi sesuatu yang buruk terhadap laki-laki itu?
Tiba-tiba saja, segala keraguan lenyap diganti dengan niat mantap di dalam melangkahkan kedua kaki. Bergerak sedikit lebih cepat bahkan nyaris seperti berlarian.
Kerumunan diterobos tanpa perduli pandangan orang-orang. Pintu klinik ditemukannya tertutup rapat, sementara kaca jendela tak mempertontonkan utuh kondisi di dalam ruangan sana.
Annelyn sudah bergeser ke tiap-tiap jendela. Yang paling ujung adalah celah terbaik untuk mengintip. Tapi sial, itu terhalangi selembar tirai.
Terlalu malas menggali informasi dari orang-orang di sekitar, Annelyn memilih untuk mengayunkan gagang pintu.
Satu ayunan, tak berhasil.
Dua, tiga, empat, dan seterusnya. Itu tetap terkunci.
Lalu, di saat kerisauannya nyaris menyentuh puncak, mata Annelyn bertemu dengan seseorang yang berdiri tepat di balik pintu.
Jaime ada di sana. Namun, tak membuka pintu. Hanya memandang Annelyn, meletakkan telunjuk di depan bibir lalu menempel kertas bertuliskan:
sedang ada operasi harap tenang
Annelyn sedikit kesal banyak leganya. Kesal sebab menyadari kekhawatirannya berlebihan, lega sebab nyatanya tidak ada sesuatu yang terjadi pada Jaime. Laki-laki itu baik-baik saja.