Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sebuah foto terbingkai dan tersempat pada tembok. Sering kali menyita perhatian dan tatap Annelyn sepanjang duduk di meja makan.
Menyendok pasta dari piring, mengunyah lalu menelannya.
"Beliau adalah Ayah angkatku. Pendeta yang disegani penduduk desa."
Meski tidak ada tanya, Jaime di hadapan perempuan itu berakhir membuka cerita. "Aku diadopsi olehnya di usia lima belas. Tak lama setelah selesai menempuh pendidikan dokter, beliau kemudian meninggal dunia."
Sendok diletakkan setenang ia mereguk segelas air. Di sini satu-satunya yang masih menyantap hanya Annelyn. Piring Jaime telah kosong. Setidaknya sebelum Annelyn membagi tak sedikit porsi di piringnya yang tersisa.
Jaime kembali menggenggam sendok. "Apa kau habis dari pusat kota?" kembali mengunyah dan menelan.
"Hm."
"Menemui Gracia?"
Kepala Annelyn yang semula tertunduk kini terangkat, anggukan kedua datang setelah yang pertama.
"Apa katanya?"
"Keadaan di negeriku sudah aman. Aku bisa kembali pulang."
Wajah kedua manusia itu nampak tenang, tetapi sungguh ruangan ini terasa pengap secara mendadak. Bukan karena ventilasi udara tidak memasok oksigen dengan baik. Situasi menyesakkan ini hadir karena banyaknya harapan yang dihantam ketidaksesuian dengan kenyataan.
"Lalu, kapan kau akan pulang?"
"Segera."
Sesendok pasta terakhir dipastikan sudah tidak sanggup lagi ditelan. Jaime membiarkannya teronggok di atas piring.
Ujung logam ditinggalkan genggaman laki-laki itu, sentuhannya lantas berlabuh di atas jemari Annelyn yang dingin.
Radio di atas bufet kayu berkaki rendah memutar musik yang nyaman. Petikan sinar gitar dipadu dengan gesekan dawai biola juga tabuhan tamborin dan tiupan harmonika.
Jaime membawa Annelyn ke lantai dansa sederhana, menarikan gerakan intuitif. Bersentuhan, berpandangan, dan tenggelam.
Diakhir gerakan, setelah berputar dan meliuk dengan mengangkat satu kaki, Annelyn jatuh di dalam sebuah pelukan. Wajahnya berada di perpotongan leher dan bahu kanan Jaime.
Di situlah kemudian terdengar bicara Jaime yang rendah dan lirih.
"Besok, pukul sebelas, mari pergi ke pusat kota. Kita belum sempat mengunjungi restoran yang direkomendasikan orang-orang. Lalu, malamnya, makan malamlah di sini. Akan kubuatkan hidangan spesial."
Annelyn mendongak, mempersilakan Jaime menggali sepasang matanya yang seperti menggambar segores tanda tanya.