vi. to the money exchange

881 162 10
                                        

Mereka duduk dalam ketenangan; Jaime di atas kursi kayu, Annelyn di atas ranjang pasien seraya meluruskan kaki untuk memudahkan Jaime mengobati

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Mereka duduk dalam ketenangan; Jaime di atas kursi kayu, Annelyn di atas ranjang pasien seraya meluruskan kaki untuk memudahkan Jaime mengobati.

Antiseptik dioleskan Jaime perlahan menggunakan kapas pada tiap-tiap luka yang menghias telapak kaki Annelyn. Dan, sepanjang itu, yang dilakukan Annelyn hanya satu:

memandangi laki-laki itu.

Lengan kokoh, tangan panjang, jari-jari terlatih.

Wajah tampan, rambut kecokelatan, rahang tegas, alis menukik tajam, mata indah, hidung mancung, bibir tipis nan manis.

Kelopak ganda berbulu mata tak lentik namun cantik itu adalah titik pusat pandangan Annelyn terakhir sebelum sang pemilik mengedip lalu menggulirkan atensi dari luka-luka menuju dirinya.

Kala itu, setelah dua detik bertatapan, Annelyn memalingkan pandang. Luka yang telah selesai diobati dan ditutup plaster dipandang.

Ada sedikit kecanggungan. Annelyn mengatasi itu dengan mengeluarkan lagi uang dari kantong baju ketika Jaime sibuk membereskan kotak obat-obatan. Ranjang ditinggalkan, lantai dipinjak.

Annelyn letakkan uang itu di meja makan bertumpukan dengan uang yang ia letakkan sebelumnya.

"Ini untuk makanan dan pengobatan yang kuterima."

Jaime menoleh ke arah Annelyn. Menatap seperti merasa berat. Entah apa yang membuatnya demikian. Padahal, ia berhak mendapat bayaran. Padahal, uang yang Annelyn letakkan cukup banyak—ah tidak, ini sangat banyak jika dikurskan dengan mata uang negaranya.

Seharusnya menjadi kegembiraan bagi Jaime menerima upah sebanyak ini.

Namun, kehendak Annelyn pergi dari klinik ditahannya cepat-cepat dengan mengucap, "Tunggu dulu!"

Jaime berpindah ke dekat meja, mengambil uang di sana lalu menghitungnya. Pada Annelyn yang menunggu, ia katakan, "Ini bahkan cukup untuk membayar biaya sewa rumah selama setengah tahun. Atau jika rumahnya berada di ujung jalan dengan pagar lapuk dan tangga keropos, ini seharusnya cukup untuk biaya sewa selama satu tahun."

Annelyn hanya diam, mendengarkan.

"Lalu berapa yang kau berikan pada Helen sehingga wanita itu begitu gembira terburu-buru pergi ke pusat kota, bahkan sampai membelikan putrinya gaun mewah dan mau memberiku sejumlah tip?"

Sejenak berpikir lalu bicara, "Aku tidak tahu pasti. Yang jelas, itu lebih banyak dari yang ada di tanganmu."

Jaime menghembuskan napas, agak frustrasi. "Negeri kami tertinggal jauh dari negerimu. Satu mata uangmu bernilai lima kali mata uang kami. Sebagai orang yang berasal dari keluarga bangsawan, tidakkah Nona mempelajari hal dasar semacam ini?"

Tentu.

Annelyn telah menghabiskan lebih dari separuh umurnya untuk belajar. Mempelajari banyak hal tentang dunia dan peradabannya. Hari-hari ia hanya selalu mendekam di balik tembok perpustakaan. Singgah dari satu perpustakaan ke perpustakaan lain, dari satu kota ke kota lain, dari negeri satu ke negeri yang lain.

Membaca buku-buku pengetahuan, menulis segala yang ada di pikiran, mengunjungi tempat-tempat indah yang sering dijadikan latar atau objek bahasan dalam buku yang ia baca.

Mimpinya adalah menjadi seorang cendekiawan. Mendukung total hal itu, sang ayah bahkan mengirimnya ke lembaga pendidikan terbaik di negerinya dan mengirim Gracia—pengajar terbaik yang dinilai serba bisa dan serba tahu untuk menemani kegiatan belajarnya.

Namun, teringat akan kejadian tragis yang menimpa keluarganya sepulang dari kegiatan berkuda bersama Gracia dan melihat potensi bahaya apabila latar belakangnya terkuak—tanpa ia tahu seaman atau sekacau apa kondisi di negerinya sana dan sudah sampai mana 'mereka' melangkah mencarinya—Annelyn berusaha mengubur fakta.

"Tidak. Aku tidak tahu—pengetahuan dasar itu." Ia mengungkap kebohongan, "Selain itu, aku bukan berasal dari keluarga bangsawan. Aku hanya putri dari seorang pelayan raja."

Ia sempurnakan kebohongannya dengan menatap lurus lawan bicara dan memunculkan raut tenang di muka. Berharap dengan itu, Jaime akan percaya.

"Begitu, ya."

Agaknya berhasil.

Sebab Jaime kemudian mencomot selembar uang dari tumpukan di atas meja, mengatakan, "Kalau begitu, biar kutunjukkan apa saja yang bisa dibeli dari selembar uang ini," seolah ia percaya bahwa Annelyn benar-benar tidak tahu.

Jaime melangkah keluar dari klinik lebih dulu, Annelyn menyusul di belakangnya. Singkat waktu, setelah terdengar suara gaduh dari balik tembok kayu di sebelah kanan klinik, keluarlah Jaime dari sana sambil menuntun sebuah sepeda.

Di beranda, Annelyn bergeming tak kemana. Hanya matanya yang bergerak mengikuti perpindahan Jaime.

Ketika, Jaime dan sepedanya telah berhenti di atas jalan tanah berbatuan, di depan klinik, Annelyn masih setia berdiri di tempatnya.

Baru, ketika Jaime bunyikan lonceng sebanyak tiga lalu mengajak, "Ayo pergi ke penukaran uang di pusat kota!" Annelyn terkesiap lalu menjawab, "Dengan sepeda itu?"

Jaime mengangguk, menunjuk sadel depan, "Aku di situ," menepuk, "Kamu duduk di sini!" memandang Annelyn, "Ayo! Sebelum matahari terbenam!"

Mengangguk, Annelyn bergegas memakai sepatunya. Sudah hampir menuruni tangga, meninggalkan beranda, Jaime berseru, "Ambil dulu uang yang ada di meja tadi!"

Annelyn mengangguk lagi, berbalik, hendak melepas sendalnya lagi, tapi kemudian menoleh pada Jaime, "Semuanya?"

"Semuanya!"

Mengangguk lagi, Annelyn buru-buru masuk setelah melepas sendal dengan tergesa dan menjatuhkannya asal.

Di situlah kemudian Jaime tanpa sadar menoreh senyum samar.

Senyum Jaime hilang ketika Annelyn kembali keluar sambil memegangi kantong baju, mengunci pintu, terburu-buru mengenakan sepatunya lagi, menuruni tangga, lalu berlarian.

Bukan apa, Jaime hanya khawatir karena Annelyn punya luka di telapak kaki yang baru tadi diobati.

"Ayo, Dokter!"

Semangat sekali. Annelyn sudah bertengger di boncengan ketika Jaime bahkan masih berdiri memegangi stang sepeda, belum naik sadelnya.

Mengarungi jalanan desa, sepeda itu dikayuh sekuat tenaga oleh Jaime ketika menanjak. Ketika menurun, Jaime tidak perlu mengayuh. Ia hanya perlu menikmati menyejukkan dari hembusan angin, dan

menikmati sensasi menyenangkan kala ujung-ujung kemejanya digenggam erat oleh dua tangan Annelyn.

[]






***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

***



DESPEDIDACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang