Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Menjulang di antara bangunan lain di pusat kota, bangunan itu memiliki tiga lantai. Mereka melangkah menuju satu-satunya kamar di lantai teratas.
Tangan besar Jaime memutar kunci lalu mendorong pintu kayu. Ruangan yang semula gulita kini menjelma terang begitu lampu-lampu dinyalakan. Luas, bersih, dan nyaman. Berisikan satu ranjang dengan selimut tebal, beberapa kursi dan meja, rak dan lemari, buku-buku, radio, pemutar musik, televisi, hingga piano klasik.
Setelah mendorong Annelyn masuk ke dalam sana, segera Jaime lepaskan genggaman yang ada lalu mengatakan, "Sementara, tinggallah di sini sampai keadaan aman!"
Segera pula, Annelyn menahan lengan kokoh itu. "Kau mau ke mana?"
"Aku akan pulang ke rumahku. Dan juga," Jaime merogoh saku mantel, mengeluarkan beberapa kunci yang tersangkut dalam satu ikatan, "Aku akan masuk ke rumahmu, untuk mengambil keperluanmu."
Menyingkirkan jemari perempuan itu dengan pelan, "Jika kau perlu sesuatu di sini," memandang ke sebuah sudut, "Gunakan telepon kabel di sana. Cukup tekan angka nol, lalu katakan permintaanmu. Nanti akan ada yang datang untuk mengantarkannya."
Tidak hanya bicara, Jaime mempraktikkan apa yang dikatakannya. Berjalan ke arah nakas di mana ada sebuah telepon kabel, mengangkat, menekan, menunggu beberapa saat, "Sepiring daging panggang, kentang, susu protein tinggi, dan sedikit buah. Tolong bawakan kemari!"
"Susu? Aku tidak tahu bahwa susu adalah gayamu, Jaime."
"Bukan untukku."
"Untuk wanita itu?"
Memandang Annelyn yang berdiri diam, "Ya, dia belum makan dari siang. Aku tidak ingin membuatnya kelaparan. Jadi, bergeraklah lebih cepat."
Jaime menutup telepon dengan cepat. Berputar lalu kembali ke sisi Annelyn, "Jika nanti makanannya tiba, makanlah dengan tenang. Tidak akan ada racun di dalamnya."
Tidak seperti caranya bergerak, bicara Jaime begitu pelan. Kendati demikian, itu tidak berhasil membendung sejumlah cemas yang mengisi sepasang mata Annelyn. Begitu juga dengan tepukan lembut di kepala perempuan itu yang mana gagal menenangkan.
Telah Jaime ambil beberapa langkah.
"Jangan pergi!"
Suara di belakang sana membuatnya berakhir dengan hanya menggenggam gagang pintu. Kakinya berhenti, kepalanya menoleh.
"Aku tidak lapar. Aku tidak perlu apa pun. Kau tidak perlu pergi ke manapun. Ah, tidak!" Annelyn secara jelas bicara dengan mulut bergetarnya, "Kamu tidak boleh pergi ke manapun!" menatap tajam dan penuh pinta.
Namun, Jaime harus pergi sekarang juga untuk memantau keadaan di luar sana.
Apakah benar anak buah Ayahnya telah sampai kemari? Apakah mereka benar-benar mengendus keberadaan musuh (Annelyn) dan melancarkan serangkaian aksi? Apakah yang menaruh racun di dalam keik, meledakkan bangunan restoran, dan mengejar mereka tadi adalah mereka?