Al melangkah pelan dengan kaki yang masih diperban, ia masih berjalan menggunakan tongkat walaupun luka di kakinya sudah kering, ia baru saja keluar dari rumah sakit, dan dijemput oleh Papa. Sepanjang perjalanan pulang, Papa hanya diam, wajahnya datar dan dingin, Papa bahkan tidak menanyakan apapun padanya. Al mengambil kesimpulan kalau Papa masih marah padanya.
Setelah sampai di rumah, Al yang kesulitan keluar dari mobil harus berusaha sendiri karena Papa sudah berjalan masuk lebih dahulu tak menghiraukannya. Dengan segala usaha akhirnya ia bisa keluar dari mobil, dengan langkah pelan Al memasuki rumahnya, ia melihat Papa nya di ruang tamu sedang menerima telepon.
Tak ingin mengganggu Papa, Al masuk ke dalam, ia duduk di ruang keluarga menonton tv, rasanya sudah lama Al meninggalkan rumah, ia rindu. Tak lama setelah Al duduk, Papa masuk berjalan cuek melewatinya.
"Pa" panggil Al, ia ingin mengakhiri segala kecanggungan nya bersama Papa.
Gavin menghentikan langkah kakinya namun ia tidak berbalik untuk sekedar menatap sang anak.
"Al minta maaf udah teriak marah-marah ke Papa di rumah sakit"
"Ya" jawab Gavin singkat
"Pa, soal Mama..."
"Kamu boleh ketemu Mama mu"
Al terkejut, ia menatap Papa nya dengan wajah sumringah namun tak lama saat sang Papa berbalik lalu mengatakan sesuatu yang membuat telinga Al berdengung.
"Tapi setelah itu kamu tinggal sama nenek dan tante Ghina"
Al menggelengkan kepalanya, "Gak mau, Al gak bakalan minta ketemu Mama lagi"
"Ketemu gak ketemu, kamu tetap akan Papa kirim ke Nenek sama Tante mu"
Al menatap Papa nya kaget, dengan mata yang mulai berlinang anak itu bertanya, "Kenapa?"
"Papa capek ngurusin kamu yang banyak tingkah, Papa juga banyak kerjaan jadi gak bisa ngurusin kamu lagi"
Al menelan ludahnya ketakutan, "Al gak bakalan nakal lagi Pa, Al akan dengerin kata Papa, Al juga gak akan ngikutin Papa ke kantor lagi, Al janji gak banyak tingkah, Al gak mau tinggal sama Nenek sama Tante Ghina"
"Kenapa? Disana kamu bisa dimanja sesuai kemauanmu, kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau"
Al menitikkan airmata, baru saja ia sembuh dan berharap bisa berbaikan dengan Papa, namun sepertinya Papa memang tidak mau memaafkannya dan sudah muak padanya.
"Al cuma mau tinggal sama Papa" ujar Al lirih
"Papa capek sama kamu, kalau kamu mau Papa bisa hubungi Mama kamu, biar kamu tinggal sama dia, seperti yang kamu mau"
Al semakin terisak, ia berkali-kali menghapus airmatanya dengan lengannya, "Papa juga mau buang Al?"
"Ya, 16 tahun sudah cukup, hidup Papa seperti di neraka"
Alvaero menahan nafasnya, sakit sekali rasanya mendengar ucapan Papa, jadi selama ini hidup dengannya serasa di neraka.
"Maaf" ujar Al pelan, anak itu menghapus airmatanya
"Maaf sudah buat hidup Papa seperti di neraka, dan terima kasih sudah mau merawat Al dari kecil, Pa. Al gak mau tinggal sama nenek sama tante Ghina, Al juga gak mau sama Mama, Al gak kenal Mama, Al cuma mau sama Papa tapi Papa...maafin Al karena sudah lahir, tapi Al gak punya siapapun selain Papa. Papa mungkin bisa hidup bahagia tanpa Al tapi Al gak bisa hidup tanpa Papa. Al minta maaf Papa. Al gak akan ganggu hidup Papa lagi, Al janji akan pergi nanti kalau sudah waktunya"
KAMU SEDANG MEMBACA
Tempat Pulang
FanfikceAlvaero Nathaniel Gavindra selalu berusaha menjadi anak baik untuk sang ayah, tak pernah membuat masalah, selalu berusaha menjadi yang terbaik di sekolah, patuh dan tak banyak tigkah. Selama 16 tahun hidup berdua dengan ayah, Al tidak pernah menunt...
