Akhirnya Bertemu

1.3K 117 1
                                        

Perihal hati yang pernah bertaut satu sama lain tidak bisa disalahkan, namun salahkan waktu yang bahkan tak mampu mengikis tautan itu hingga semakin erat bertaut satu sama lain.

______________

Sudah seminggu sejak sidang terakhir kasus penganiayaan yang ditangani Gavin, dan seminggu itu pula Kanaya sang mantan istri terus mengunjungi kantornya, dengan alasan ingin menyelesaikan kasus yang ia tangani bersama Kanaya selalu mencuri cara untuk bisa bertemu dengan anaknya hingga membuat Gavin jengah.

Berkali-kali wanita itu mencoba membuat kesepakatan dengan Gavin namun nihil usahanya tak disambut baik laki-laki itu.

"Aku mohon Gavin, sekali ini saja, biarkan aku melihat Al, aku janji gak akan beritau dia kalau aku Mama nya"

Gavin tidak menanggapi, ia masih sibuk dengan berkas ditangannya.

Kanaya menghela napas pelan, ia duduk di sofa ruangan sang mantan suami, menatap ke arah Gavin yang masih duduk di kursi kebesarannya tak terganggu dengan rengekannya yang ingin bertemu sang anak.

Namun bukan Kanaya kalau menyerah, dengan langkah lebar, ia mendekati Gavin lalu menarik kertas ditangannya lalu menarik kursi Gavin hingga menghadap ke arahnya, dengan penuh keberanian ia menahan kursi itu dengan kedua tangannya yang ia letakkan di tangan kursi lalu menatap Gavin di bawahnya.

"Aku minta maaf, aku egois, aku tau aku salah, seharusnya aku gak pergi tanpa anakku"

Gavin membuang muka, "Kamu gak salah karena menyerahkan Alvaero padaku, tapi kamu memang egois untuk hal itu. Komitmen kita menikah memang untuk menuju kesuksesan bersama tanpa kehadiran anak di awal-awal kehidupan pernikahan kita karena kita masih terlalu muda, tapi aku gak pernah bilang kamu tidak boleh punya anak, aku hanya minta kamu buat nunda punya anak Kanaya. Tapi kamu impulsif dan terlalu gegabah untuk keputusan yang sebesar itu"

"Aku bisa apa Gavin, semua terjadi diluar kehendak kita dan aku bingung, respon mu terlalu menyakitkan Vin, kamu seakan gak mau menerima anak kita. Aku gak bisa tahan semua sikap kamu ke aku dan Al hanya karena kecewa komitmen kita hancur"

"Harusnya kamu tau seperti apa aku Kanaya"

"Dan kamu yang seperti itu yang buat aku gak bisa bertahan Gavin, kamu pikir gampang hidup dengan sikap kamu yang cuek dan dingin? Kamu berubah semenjak Al lahir dan aku benar-benar gak kuat untuk terus bersama orang yang tidak mencintaiku"

"Lalu kenapa kamu baru bicara sekarang? Setelah 15 tahun berlalu"

Kanaya melepaskan tangannya dari kursi, ia berdiri dengan wajah sedih dan mata berlinang, "Karena setelah pergi dari kamu, akupun gak kuat, aku kira aku akan bahagia bebas dari kamu dan sikap semena-mena kamu, tapi ternyata aku salah"

Perihal hati yang pernah bertaut satu sama lain tidak bisa disalahkan, namun salahkan waktu yang bahkan tak mampu mengikis tautan itu hingga semakin erat bertaut satu sama lain.

"Katakan apa yang kamu inginkan Kanaya?" Tanya Gavin seraya menarik wanita itu mendekat kembali ke kursinya, bahkan wajah Gavin yang mendongak hanya berjarak beberapa centi dari dada Kanaya yang bergerak naik turun tak santai.

"A-aku..."

Keheningan terjadi beberapa saat karena Kanaya tercekat tak mampu menyampaikan isi hatinya di hadapan laki-laki yang masih menjadi pemilik hatinya. Hingga suasana sendu diantara keduanya terdistrak karena...

Tempat PulangTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang