Rumah Mama

1.5K 126 3
                                        







Al menatap sekeliling, rumah dengan pekarangan besar nan asri itu sangat indah, ia suka melihat rumah keluarga ibunya yang tampak sangat nyaman. Ada 3 pohon mangga di pekarangannya, lalu ada 3 pohon kelengkeng yang sedang berbuah, ada pohon rambutan, dan banyak sekali bunga, ada bunga bogenville, bunga mawar bahkan ada kaktus berjejer di dipan khusus.

"Wahhh, Ma, Al mau petik mangga ya"

"Al" peringat Gavin karena anak itu sibuk ingin menaiki pohon mangga sementara ibunya sedang menenangkan diri sebelum bertemu keluarganya.

Al yang mulai mengerti akan situasi akhir ya diam, ia berjalan mengikuti Papa dan Mama nya menuju ke pintu rumah bergaya tradisional itu.

"Assalamualaikum..."

"Waalaikumsalam..."

Saat pintu dibuka, Al melihat seorang wanita tua membuka pintu dengan wajah yang tampak kaget.

"Nak, masuk, masuk nak, ya allah kenapa ndak ngabarin ibu kalau mau pulang"

"Bu" ucap Kanaya memeluk ibunya

"Aku datang sama Gavin dan anakku" lanjut Kanaya yang membuat wanita paruh baya itu melepas dekapannya lalu menyapa Gavin dan mulai menatap Al.

Al yang di tatap tersenyum kecil, "Ini Alvaero? Anak lanangmu? Sudah besar sekali. Nak, ya allah ini nenek"

Alvaero tersenyum, ia menyalimi sang nenek lalu memeluknya.

"Alvaero udah umur berapa nak?"

"16 nenek"

"Oalah, sudah SMA toh, ayo masuk-masuk, nenek buatkan makan, kalian makan dulu ya"

Ibu Kanaya menarik mereka untuk masuk, lebih tepatnya menarik Al, mengajak Al menuju ke dalam rumah meninggalkan Kanaya dan Gavin sebelum berkata.

"Kalian duduk disini dulu ya, Ibu mau minta tolong mbak Uun siapkan makan, Ibu mau ajak Alvaero ke dalam dulu"

Kanaya dan Gavin menghela napas pelan, entah apa yang Alvaero katakan pada sang nenek saat mereka berjalan masuk tadi hingga keduanya sudah tak terlihat di mata mereka.

"Nay"

"Ayah biasanya ke ladang dari pagi"

"Iya, aku tau, kamu yang tenang, biar aku yang ngomong sama Ayah"

Kanaya menghela napas pelan, "Iya"

Tak lama, suara pintu terbuka menyadarkan Gavin dan Kanaya, mereka menoleh ke arah pintu mendapati ayah Kanaya yang baru masuk. Mereka sempat saling menatap dalam diam sebelum ayah Kanaya masuk.

"Gavin, gimana kabarnya?" Tanya ayah Kanaya yang langsung disalami oleh Gavin

"Baik yah, Ayah gimana? Sehat?"

"Alhamdulillah, sehat, cuma kaki Ayah  sedikit bengkak gara-gara di sengat tawon kemarin di ladang"

"Udah di obatin yah?" Tanya Kanaya

"Sudah diobatin Ibu mu kemarin"

Kanaya menatap ayah yang juga menatapnya, "Yah, aku bawa Al sama Gavin kesini, aku pengen ngomong ke Ayah"

Sang ayah mengangguk, "Kamu apa kabar? Sudah lama tidak pulang, ndak kangen ayah sama ibu mu nak?"

Kanaya terdiam, ia menunduk, "Maaf yah"

"Gak apa-apa, Ayah yang salah karena terlalu banyak ikut campur sama rumah tangga kamu"

"Nggak ayah, Naya yang salah karena gak mendengarkan ayah dari awal"

Tempat PulangTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang