Suasana hening menghiasi kamar Alvaero di rumah sang nenek, sejak kembali dari rumah sakit, anak itu tak banyak bicara, ia hanya mengikuti tante Ghina dan nenek nya. Untuk sementara Al tinggal dengan tante Ghina dan neneknya, Gavin sudah menceritakan semua pada sang ibu tentang apa yang dialami sang cucu.
Sudah 2 hari, Al tinggal disana dan anak itu belum mau keluar dari kamar, selama 2 hari ini pula ia tidak bertemu dengan Papa dan tante Naya. Terakhi kali, ia mengingat kalau ia kesakitan memeluk orang yang disebut Papa nya sebagai Mama kandungnya. Al tidak bisa percaya begitu saja, walau hatinya merasa tak nyaman setelah membentak tante Naya dengan kurang ajar waktu itu.
Tok tok tok
"Al, Tante masuk ya"
Alvaeron menatap Ghina yang datang membawa beberapa cemilan dan sebuah album foto.
"Tante mau nunjukkin sesuatu, kamu dari lama pengen lihat ini. Papa mu juga tadi titip sesuatu untuk kamu"
Taka ada respon, Al hanya diam
"Al, maafkan tante sama Papa mu ya nak, urusan orang dewasa memang serumit ini" ujar Ghina, ia meletakkan cemilan di nakas sebelum menyuapi Al anggur hijau dan diterima dengan baik oleh anak itu.
"Papa dan Mama kamu, mereka berdua memang manusia paling bodoh yang pernah tante kenal" ujar Ghina, wanita itu menyodorkan sebuah kertas pada Al.
"Ini akte kelahiran kamu, nama Papa dan Mama kamu terpampang nyata disana, kamu boleh baca, selama ini Papa kamu merahasiakan itu karena takut kamu mencari Mama kamu dan pergi meninggalkan dia sendiri"
Al menatap kerta berupa akta kelahirannya, nama Gavin terpampang nyata disana lalu pansangannya adalah Kanaya Anindya. Al sedikit kaget walau dengan cepat ia menenangkan diri menunggu kelanjutan Ghina yang sepertinya membawa album foto.
"Mama sama Papa kamu, menikah muda, mereka menikah dengan tujuan supaya hubungan mereka terikat jelas dimata agama, tapi bodohnya mereka membuat komitmen kalau mereka tidak mau punya anak sebelum lulus kuliah. Tapi waktu itu Mama kamu langsung hamil kamu saat umur pernikahan mereka belum genap setahun, Papa kamu marah, sikapnya berubah, dan Mama kamu yang paling menderita karena perubahan sikapnya. Sampai umur kamu 1 tahun, Mama kamu memutuskan bercerai sama Papa mu dan memberikan hak asuh kamu ke Papa mu. Tau alasannya apa? Karena Mama kamu mau Papa mu mengurus kamu, dekat dan tau rasanya mengurus anak. Walau sebenarnya Mama mu berat menimang keputusan itu, tapi tante mendukung agar Papamu tau dan sadar kalau dia punya tanggungjawab. Namun setahun berlalu, Papamu mambawa kamu pergi entah kemana, bahkan tante juga gak tau kalian kemana, Mama kamu nyari kamu kesana kemari tapi Papamu yang bersembunyi karena sakot hati ditinggalkan. Dan itu berlanjut sampai kamu besar sekarang. Mereka berdua itu bodoh, masih saling mencintai tapi egonya sama-sama besar. Jadi tante minta supaya Al jangan berpikir kalau kamu tidak disayangi, Papa mu yang bodoh itu selalu ketakutan kalau kamu sakit, dia pernah nangis karena kamu kejang-kejang, dia selalu terjaga kalau kamu sakit bahkan saat kamu sebesar ini. Hanya saja, Papa mu itu tsundere, dia malu untuk mengungkapkan isi hatinya, dia gak kayak tante nak, Papa mu itu sayang sama kamu, cuma dia gak ngerti cara menyampaikan ke kamu seperti apa"
Al menghela napas pelan, "Tapi Papa selalu jahat sama aku tante"
"Karena dia gak mau kamu bergantung sama dia nak, Papa mu orang yang mandiri sejak kecil, dia gak mau kamu manja karena dia tau kalau kamu beda dengan teman-temanmu yang lain, sosok Mama tempat kamu bermanja gak ada dan dia gak bisa menggantikan Mamamu"
"Kamu tau? Saat kamu kecelakaan, Papa kamu adalah yang paling hancur, dia nangis-nangis ke tante minta buat selametin kamu, dia gak tidur, dia gak makan bahkan pingsan di kamar kamu karena gak mau ninggalin kamu sendiri. Adik tante itu kalau sudah sayang sama orang dia rela melakukan apapun, apalagi kamu anaknya yang dia rawat dari kecil sampai sebesar ini sendiri"
KAMU SEDANG MEMBACA
Tempat Pulang
FanfictionAlvaero Nathaniel Gavindra selalu berusaha menjadi anak baik untuk sang ayah, tak pernah membuat masalah, selalu berusaha menjadi yang terbaik di sekolah, patuh dan tak banyak tigkah. Selama 16 tahun hidup berdua dengan ayah, Al tidak pernah menunt...
